Sabtu, 23 Mei 2009

jino sesion 3 Tamat

*** Lima ***
Tak terasa Jino udah dijalan raya nunggangin sepeda bututnya, Jino sekarang bahagia, liat aja mukanya kayak semangka yang abis dipecah, jadi kelihatan segarnya, apalagi dia mau ngapelin cewek impiannya, pokoknya Jino bahagia banget, sampai – sampai dia menjerit jerit dijalan raya, biasa, orang lagi jatuh cinta! Harap maklum.
Akhirnya Jino udah sampai dikawasan perumahan Galaxy! “Gila!!! Rumahnya besar – besar” Batin Jino dan menghentikan laju motornya, Jino mengeluarkan kartu namanya Fela.
“Oh, jalan ini, ya, gue tau sekarang” Jino langsung menggeber motornya ke rumah Fela. “Oh my god, gede bener! Fela, gue datang” Batin Jino sambil mengamati rumah Fela.
“Tapi itu mobilnya siapa?” Jino melihat sedan putih parkir didepan pintu halamannya.
Jino rada – rada nggerogi ketika mau masuk rumahnya Fela., “Apa betul ya! ini rumah Fela?” Batin Jino. Jino celingak – celinguk, tanpa pikir panjang Jino langsung nyamperin pos satpam yang jagain rumahnya Fela.
“Pak, apa bener ini rumahnya Fela?” Tanya Jino ke satpam.
“Ya, bener mas, tapi non Fela masih ada tamu” Jawab satpam.
“Cewek apa cowok pak?”.
“Cowok”.
“O…oh” Jino manggut – manggut.
“Ya udah pak, saya langsung masuk aja, Monggo” Jino langsung ngeloyor pergi.
“Gila bener, ini rumah apa istana presiden, halamannya luas, rumahnya juga gede, bener – bener tajir nih cewek” Batin Jino geleng – geleng.
Ketika Jino mulai mendekati teras rumahnya Fela, Jino kaget melihat keributan, Jino menghentikan langkahnya.
“Itukan Fela, sama siapa ya kok ribut” Langsung aja Jino menghampiri mereka, seketika itu cowok itu nampar Fela.
“Plak” Dan tanpa disadari Jino udah disamping mereka.
“Stop stop! Ada apa ini?” Sergah Jino kepada mereka.
“He, lo jangan ikut – ikut ya!” Sungut cowok itu melotot.
“Gue nggak ikut – ikut, Cuma gue nggak rela melihat kesewenang – wenangmu terhadap kaum lemah seperti Fela” Bela Jino.
“Fel itu siapa?” Tanya Jino ke Fela yang sedang menangis.
“Itu cowok gue Jin!” Jawab Fela sambil mengusap air matanya.
Dieng!!! Serasa hatinya Jino terpukul benda tajam! Sakit rasanya cewek yang dicintai ternyata disia – siakan orang lain.
“Fel, kamu ditampar kok diam aja?”.
“Sudahlah Jin, nggak usah diperpanjang” Kata Fela tersedu – sedu.
“Ini nggak bisa dibiarin Fel! Gue nggak rela ini terjadi ama kamu” Kata Jino sambil memegang pundaknya Fela.
“Udahlah!, lo jangan sok pahlawan deh, ini urusan gue ama pacar gue” Sungut cowok itu.
“Sorry pren, bukannya gue sok pahlawan tapi inget! Lo tuh hanya pacar, bukan bapaknya” Ujar Jino nyindir.
“Emangnya kenapa? Gue emang bukan bapaknya tapi dia pacar gue”.
Jino tertawa geli “Gue tau Fela pacar lo tapi lo nggak punya hak untuk nampar dia, lo bukan siapa – siapa man, lo hanya sekedar pacar” Jino menudingkan telunjuknya.
“Pergi Vin kamu sekarang, gue benci ama kamu, kita putus Vin!” Kata Fela tersendat – sendat.
“Oke, kita putus, ini semua gara – gara lo!” Cowok itu menuding ke Jino.
“Lho kok gara – gara gue? Lo ngaca dong siapa yang salah?” Kata Jino santai.
“Lo nantangin gue?”.
“Terserah kamu”
“Sudah sudah, kalo kamu nggak mau pergi, aku bisa panggilin satpam suruh ngusir kamu” Sela Fela seketika.
“Oke, gue pergi sekarang tapi inget! Gue belum selesai urusan dengan teman kamu” Ucap cowok itu.
“Silahkan kalo lo belum selesai urusan dengan gue, gue tunggu, catat! Nama gue Jino, supaya lo inget – inget di dada lo” Tantang Jino.
“Awas lo nanti” Ancam cowok itu dan langsung pergi.
“Makasih Jin” Fela mengusap air matanya.
“Lo nggak apa – apa Fel?”.
“Aku nggak apa – apa, aku jadi malu sama kamu, maaf Jin udah melibatkan kamu ke masalah pribadiku”.
“Nggak usah minta maaf, aku kan teman kamu”
Mereka diam sejenak.
“Ngomong – ngomong orang tua kamu kemana?” Tanya Jino lagi.
“Orang tuaku lagi tugas ke luar negeri satu bulan”.
“Makanya kok sepi, berarti kamu tinggal sendirian dong?”.
“Nggak, aku ama pembantu dan pak satpam yang jaga disana”.
“O…oh” Jino manggut – manggut.
“Silahkan duduk Jin, sampai lupa kita berdiri terus” Suruh Fela.
Mereka langsung duduk.
“Siapa sih cowok itu?”. Tanya Jino seketika.
“Namanya Kevin, Aku udah jalan ama dia sekitar 6 bulanan, dia egois dan sering nampar aku kalo dia marah”.
“Kamu diem aja Fel?”. Kejar Jino.
“Enggak, aku berkali – kali minta putus sama dia tetapi dia menolak!” Ucap Fela sedih.
“Tega benar Kevin, tapi masalahnya tadi itu apa?”.
“Kemarin malam dia bersama cewek lain di diskotik, dia begitu mesra banget, saat itu juga Kevin melihat aku, lalu dia datang kemari mau menjelaskan kalo cewek itu adalah temannya tapi aku nggak percaya, malah aku ditamparnya, dia memang nggak ngerti perasaan cewek!” Ungkap Fela meneteskan air matanya.
“Udahlah Fel, jangan sedih! Gue ikut sedih kalo kamu sedih”.
Fela mengusap air matanya.
“Makasih Jin, kamu udah Bantu aku, sekarang aku bebas”.
“Kamu itu cantik Fel, kamu bisa mendapat cowok manapun”.
“Dasar nggombal!!!”
“Bener Fel” Jino pasang muka serius.
Jino langsung menatap lekat – lekat sorot matanya Fela. “Kau memang cantik, menawan dan indah” Batin Jino.
Fela jadi salting.
“Kamu kenapa ngeliatin gitu?”.
Jino gelagapan.
“Eh….eh, enggak, siapa yang liatin kamu?”.
“Kamu emang orang aneh kok Jin, ada – ada aja”.
Jino tertawa tipis.
“Kita keluar yuk?” ajak Fela.
“Kemana Fel?”
“Kemana aja biar aku nggak stress gara – gara Kevin”.
“Lo nggak malu keluar sama aku?”.
“Aku nggak suka kamu ngomong gitu!” Fela marah.
“Sorry” Ucap Jino singkat.
Mereka pun keluar menaiki sedannya Fela.
“Kita kemana Jin?” Tanya Fela sambil menyetir mobil.
“Terserah kamu aja deh Fel”.
Seperempat jam kemudian mereka tiba dikawasan Balai Pemuda, dimana disitu tempat nongkrongnya para muda mudi, disana juga terletak gedung tua peninggalan zaman Belanda, dan sekarang dijadikan tempat kesenian kebanggaan kota Surabaya yang bernama Balai Pemuda.
Fela mengamati tepi jalan kanan – kiri.
“Vespanya bagus – bagus ya?” Fela melihat vespa yang berjejer rapi.
“Ya begitulah, memang top kota Surabaya! Fel, kita berhenti didepan situ aja”.
“Oke” Fela menepikan mobilnya.
“Sejuk sekali ya disini” Fela mengamati sekitar jalan Pemuda.
“Yuk kita kesana?”. Ajak Jino sambil nunjuk gedung balai pemuda.
“Ke balai pemuda maksud kamu?”.
“Yo’i!!!”.
Akhirnya mereka masuk ke gedung balai pemuda, ”Pamerannya bagus – bagus” Fela melihat karya – karya seni dan lukisan.
“Kamu pernah kesini?”. Tanya Jino.
“Pernah, tapi nonton bioskop disebelah gedung ini”
“Sama Kevin?”.
“Ya” Fela manggut – manggut sambil melihat – lihat lukisan.
“Fel, aku ingin ngajak kamu ke suatu tempat, kamu mau nggak?” Ucap Jino.
“Kemana?”.
“Kamu pasti akan tau sendiri”.
Kemudian Jino mengajak Fela pergi ke taman cinta, tempat dimana pemuda – pemudi bisa melihat kekuatan cinta. Tempat yang indah, dimana terdapat bunga mawar, bunga melati hingga tugu yang bersimbol hati dengan panah penembusnya. Disitu terukir pesan Kahlil Gibran yang tertulis:
Cinta takkan memberikan apa – apa pada kalian
Kecuali keseluruhan dirinya
Cinta tidak akan mengambil apa – apa
Kecuali dari dirinya sendiri
Cinta tidak memilik atau dimiliki
Karena cinta telah cukup untuk cinta
Di taman itu juga terlihat pohon – pohon cemara yang mengitari taman itu, pokoknya indah banget buat orang – orang yang sedang kasmaran.
Tak lama kemudian Jino sudah nyampe’ di taman itu.
“Tempat apa Jin?, aku nggak pernah kesini” Tanya Fela sambil melihat keindahan taman itu.
“Ini adalah taman cinta”.
“Indah sekali! sungguh tak terbayangkan ada taman seindah ini”.
Mereka menelusuri jalan menuju tugu cinta.
Fela tertegun melihat tugu cinta hingga meneteskan air matanya karena membaca pesan Kahlil Gibran.
”Kenapa Fel?”. Jino prihatin.
Fela langsung memeluk Jino.
“Kenapa sih kamu? Jawab dong Fel! Kalo kamu sedih aku juga ikut sedih”.
Fela terisak – isak.
“Fel, aku sahabat kamu, mungkin aku bisa membantu kamu” Tanya Jino lagi.
Fela melepaskan pelukannya.
“Jin” Fela mengusap air matanya “Kamu kok baik sih sama aku? Padahal kita baru kenal”
“Karena kamu adalah teman aku, kenapa sih kamu nanya gitu?” Jino mengusap air matanya Fela.
“Enggak, nggak apa – apa” Fela menghela nafas. “Aku ingat ketika Kevin pertama merayu aku dengan kata – kata cinta tapi sayang kenyataannya nggak seperti kata – kata manis yang terucap dalam mulutnya dan betul apa kata Kahlil Gibran, cinta tak harus dimiliki” Sambung Fela berkaca – kaca.
“Kamu masih mencintainya?” Jino berkata pelan.
“Aku nggak tau, karena hari ini nggak bisa ditebak, kadang rasa suka masih ada, kadang rasa benci juga ada” Jawabnya sambil menghela nafas.
Mendengar ucapan Fela, Hatinya Jino seakan – akan tertimbun batu besar, sakit rasanya! Jino memang mencintai Fela sejak perkenalan pertama ditaman, tapi Jino kadang tau diri, apakah dia pantas buat Fela yang kecantikannya nyamain Maria Renata? Cinta memang misteri dan tidak bisa ditebak, kadang cinta itu bisa melukai, kadang juga bisa menyembuhkan, itulah cinta! Fela memang gadis yang baik, cantik, pinter dan kaya, pokoknya di kampus cemara nggak ada yang seperti dia, banyak yang pingin nggebet Fela, dari kelas tinggi sampai kelas teri, hingga akhirnya kena cowok yang bernama Kevin.
Ngomong – ngomong tentang Kevin? Dia juga sekelas sama Fela. Dengan kemampuan dan kejelian Kevin, pada akhirnya Kevin bisa mendapatkan cintanya Fela. Banyak cewek kece dikampus cemara yang naksir sama Kevin, Ya..! biasalah Kevin kan orang ganteng dan tajir. apalagi wajahnya rada rada mirip kayak Brat Pitt, jadi klop abis banget, udah ganteng mirip artis lagi. Mungkin kalo Kevin dibandingkan ketampananya ama Jino jauh Men, ibarat brat pitt dan Jim carey he he..!
Kata cowok – cowok kampus cemara, Fela itu ibarat bulan yang indah, jadi kalo Fela lewat didepan cowok – cowok kampus cemara, Fela pasti digodain atau disuitin karena nih anak cantik sekali, apalagi orang gila atau orang stress kalo lihat Fela pasti sembuh karena tuh cewek beautiful banget, kecantikannya bisa merefreshkan pikiran.
*** Enam ***
Pagi harinya dikampus, pas ganknya Jino lagi ngumpul dikantin, anak – anak pada ngerumpiin Jino yang abis keluar ama Fela, terutama si Dewa yang paling utama nyebarin gosip.
“Hee, tau nggak, gue kemarin habis mergokin Jino ama Fela di balai pemuda” Ungkap Dewa antusias.
“Masa’?” Indah rada – rada nggak percaya.
“Swear, berani sambar gledek deh kalo gue bo’ong, kalo nggak percaya tanya aja Lupi” Jelas Dewa sambil nyeruput secangkir kopi.
“Iya Lup, kemarin Jino keluar ama Fela?” Tanya Indah yang ada didekat Lupi.
“Iya! Kemarin gue pas keluar ama Dewa dari toko buku, kan kita mampir ke balai pemuda mau liat lukisan” Lupi mengunyah roti bakarnya “Nggak taunya aja Jino dan Fela disitu, langsung aja kita cabut dari tempat itu sebelum ketahuan ama Jino” Jelas Lupi panjang lebar.
Indah dan Novipun percaya. “Hebat juga tuh anak bisa ngajak keluar bidadari kampus cemara” Puji Novi salut.
“Mungkin ini berkah buat Jino, lo tau sendirikan perjalanan cintanya sama Asti anak manajemen, udah diterima cintanya lalu Asti meninggal Dunia, sampai – sampai Jino hampir putus asa” Tambah Indah.
“Benar kata lo Ndah” Lupi menghisap rokoknya lalu meneruskan ucapannya “Gue takut kalo Jino patah hati lagi, inikan belum jelas apakah Jino bisa diterima cintanya atau enggak? Jino pernah bilang sama gue kalo Fela adalah makhluk yang dikirim oleh Tuhan buat nggantiin posisi Asti yang meninggal setahun yang lalu, Jino sangat cinta banget ama cewek itu” Jelas Lupi.
“Gue jadi inget kejadian setahun yang lalu, ketika Jino berusaha mati – matian mendapatkan asti, sampai – sampai dia rela mau loncat dari lantai dua untuk membuktikan cintanya Jino ama Asti, hingga akhirnya cintanya Jino diterima tapi sayang kebahagiaan mereka nggak selamanya, sampai akhirnya Asti dipanggil Yang Kuasa! Cinta memang penuh dengan tanda Tanya!” Kata Dewa puitis.
“Kita harus Bantu Jino sekuat kita supaya dia bahagia” Ucap Novi.
“Ngomong – ngomong Jino belum datang juga” Potong Indah.
“Tadi dia udah gue telpon, katanya ngantar tantenya dulu” Jawab Novi.
Tak lama kemudian Jino nyembul dari pintu kantin dan menyapa mereka.
“Hai sobat – sobat brengsek” Jino menghampiri mereka.
Jelas aja si Dewa keki.
“Brengsek, muka lo jebol” Dewa dongkol.
Jino hanya tersenyum tipis.
“He rumput teki, lo jangan senyum aja, kita – kita mau ngomong soal lu kribo”.
“Ngomong aja, gitu aja kok sulit!” kata Jino simpel sambil menyulut rokok dan duduk dihadapan mereka.
“Lo suka sama Fela?” Indah membuka pembicaraanya.
Jino diam sambil mikir gimana jawabnya ke anak – anak.
“Sorry Jin, bukannya kita – kita mau ikut campur urusan lo, tapi lo harus inget ama kisah lo dengan Asti” Ucap Novi.
Jino kaget mendengar ucapan Novi, dia ingat memory percintaanya dengan Asti yang berakhir dengan kesedihan. Setahun yang lalu Jino pernah suka ama cewek yang bernama Asti, Jino berusaha keras untuk mendapatkan cintanya, pengorbanannya dilakukan dengan cara apapun supaya dia bisa mendapatkan cintanya Asti, pernah sewaktu ketika Jino nekat lantaran ditolak tujuh kali hingga dia hampir bunuh diri dilantai 2 gedung utama kampus, sampai akhirnya Asti melihat Jino mau bunuh diri (kayak di film lndia he..he..), Asti sadar betapa besar cintanya Jino kepada dia dan akhirnya Asti menerima cintanya Jino! Tapi Tuhan berkehendak lain, belum sempat Jino merasakan indahnya berpacaran, Asti mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil pas pulang kuliah, dia meninggal seketika karena kehabisan darah, mendengar Asti kecelakaan Jino mengalami depresi berat, Jino hampir putus asa, cewek yang dicintainya hanya meninggalkan kenangan – kenangan yang berarti, Jinopun berusaha bangkit dari keterpurukannya, dengan bantuan teman – temannya, Jino berhasil bangkit dari keputus asaannya.
“Gue takut lo sedih lagi, gue takut lo putus asa lagi” Tambah dewa.
Jino hanya diam dan mengepulkan asap rokoknya.
“Gue memang cinta ama Fela! Tapi gue siap menerima resiko apapun, meskipun itu kenyataannya sangat pahit, gue siap sedih lagi, tapi kalo putus asa gue harus berpikir seribu kali dan tolong jangan ingat – ingat masa lalu gue dengan Asti, karena gue udah menutup lembaran yang penuh dengan kesedihan itu!” Jelas Jino sedih.
“Gue dan teman – teman selalu dukung lo Jin” Lupi mendukungnya.
“Kalo lo bener – bener cinta ama Fela, lo harus jujur ama dia sebelum lo terlambat” Tambah Indah.
Jino manggut – manggut.
“Kalo lo butuh bantuan ke kita – kita, langsung aja Jin, kita siap membantu kok, demi kebahagiaan lo!” Ujar Novi.
“Thank’s friends, kalian baik banget ama gue, nggak rugi punya sahabat kayak kalian” Kata Jino bahagia.
“Ayo kita toast!” Usul Dewa.
“Ayo…..” Jawab mereka serempak dan bertoast ria.
Cinta memang terkadang unik tapi cinta itu bersifat universal, cinta enggak memandang rendahnya seseorang tapi cinta memandang kasih sayang seseorang! Apakah bisa Jino mencintai bulan purnama dikampus, karena Fela ibarat bulan, sedangkan Jino ibarat langit yang menghiasinya (Sok puitis banget ya?).
Seminggu sudah berlalu.
Waktu itu pas pagi hari Jino udah memarkirkan motor bututnya di pelataran kampus, suasana kampus udah begitu ramai, saat itu Jino melihat sedannya Fela masuk di gerbang kampus, ada sedikit perasaan gembira dari Jino, Ia melihat Fela keluar dari mobilnya dan langsung menghilang dibalik gedung kampus “Fela…..Fela, kamu membuat hatiku berdegup kencang, kapan aku bisa memiliki kamu” Batin Jino.
Fela memang cantik, sekarang dia semester I jurusan akuntansi, dia juga disebut para play boy kampus cemara sebagai bidadari yang paling cantik sejagad kampus cemara, kecantikannya serupa dengan keindahan bintang – bintang dilangit!.
Lalu Jino beranjak pergi ke perpustakaan, akhirnya nggak sampe satu menit Jino udah berada di perpustakaan, pas Jino berada di rak – rak buku tanpa disadari Fela mengageti Jino dari belakang.
“Hayo, cari apaan?”.
“Aduh Fela, kamu ngagetin aja” Jino mengelus – ngelus dadanya.
“Kamu nggak kuliah Jin?” Tanya Fela.
“Habis ini aku kuliah, kamu juga nggak kuliah Fel?”.
“Ya sama Jin, habis ini” Fela tersenyum tipis.
Sebenarnya Jino deg – degan juga bertemu Fela, hatinya Jino seperti kentongan pos kamling Tak…Tok…Tak…Tok.
“Jin, kamu nanti kuliah sampai jam berapa?” Tanya Fela lagi.
“Sampai jam satu”.
“Jam satu ya” Fela mau ngajak Jino keluar tapi dia sulit untuk ngungkapinnya.
“Memangnya ada apa sih Fel? Bilang aja, nanti sakit perut lho kalo ditahan” Jino tersenyum.
Fela juga tersenyum. “Ntar selesai kuliah kamu nggak ada acara?”.
“Nggak ada kok Fel”
“Mau nggak kamu ikut aku ke Plaza Surabaya?”.
“Gimana ya Fel?” Jino pura – pura mikir padahal dia bahagia sekali.
“Mau donk!!!” Fela merengek.
“Nggak dimarahin ama Kevin nih kamu keluar ngajak aku?” Goda Jino.
“Aku kan udah bilang aku ama dia udah putus, mau nggak? Kalo nggak mau juga nggak apa – apa kok” Fela langsung cemberut.
“otok…otok…otok, gitu aja marah, iya deh gue mau” goda Jino lagi.
Fela kelihatan ceria lagi.
“Naik mobilku aja ya Jin?” usul Fela.
“Terserah kamu aja deh Fel”.
Kemudian ada yang nyapa Fela dari belakang.
“Fel, udah selesai cari bukunya?” Ujar temannya.
“Udah selesai kok”.
“Makanya gue tungguin dari tadi ternyata disini berduaan” Goda temannya.
“Hust, ngomong apa kamu?” Fela tersipu malu.
Temannya cekikikan.
“Gebetan baru ya Fel?” Sindir temannya sambil menutup senyumannya.
Fela langsung melotot ke temannya.
“Sorry sorry”.
“Kenalin Hes, teman gue yang sering gue ceritain” Kata Fela.
“Ooh, ini yang namanya Jino toh?” Tanya Hesti sambil nyengir.
Jino tersenyum geli.
Jino menyodorkan tangannya dan membusungkan dadanya ”Kenalin, pemuda paling asoy dikampus cemara,Ji..no”.
“Asoy geboy maksud lo? “ Ledek Hesti dan langsung menyodorkan tangannya juga.
Mereka langsung tertawa.
“Nama gue Hesti, sobat karibnya Fela” Hesti menyebut namanya.
“Nanti ya jam satu, gue tunggu di parkiran mobil” Usul Fela.
“Beres Fel” Jino manggut – manggut.
“Duile…, ngedate nihye?” Goda Hesti.
“Hust!” Fela langsung menyeret Hesti menjauhi Jino.
Setelah Fela pergi, perasaan Jino bahagia banget, Jino seperti terbang kelangit ketujuh, sempat Jino berteriak – teriak didalam perpustakaan saking bahagianya, sampai – sampai di ditegur ama petugas perpustakaan, kemudian Jino langsung ngacir pergi ke kelasnya.
Sesampai dikelas, Jino langsung menghampiri ganknya “Hai sobat – sobatku, gimana kabarnya?” Jino senyum – senyum terus.
“Nih anak rupanya kok ceria banget?” Dewa rada – rada curiga dan langsung menyentuh jidatnya lalu ditempelkan ke pantatnya Dewa.
“Busyet! “ Dewa geleng – geleng kepala “Beda Man, Jino lagi kena virus cinta, pasti ini nggak salah lagi”.
Jino tambah ngakak dibilangin ama Dewa kayak gitu.
“Benarkan, kena virus” Tambah Lupi meyakinkan mereka.
Mereka manggut – manggut.
“Denger ya, gue nggak kena virus cinta tapi gue bahagia banget hari ini” Timpal Jino.
“Kamu dapat togel ya? Bagi dong!” Tebak Indah.
“Buuukan” Sambil geleng – geleng.
“Lalu apa dong?” Kejar Novi.
“Gue nanti diajak Fela keluar ke mall”
Kompak mereka langsung kaget.
“Ihii….ihiii, suite….suite!” Goda Lupi.
“Itu namanya sama aja kena virus cinta, bloon” Ledek Dewa.
Jino semakin tertawa keras, jelas aja Dewa keki dan langsung menutup mulutnya “Diam bloon, kalau gila jangan disini”.
Jino langsung melepaskan tangannya Dewa.
“Gue nyerah! Begini Pren, gue nantikan bercinta ama Fela, gue minta sumbangan 10ribu dari lo semua” Usul Jino.
“Huuu…” Mereka mencibir.
“Makanya kalo nggak punya doku jangan bercinta” Ledek Indah.
“Dasar matre” Tambah Novi.
“Terserah lo bilang apa, tapi gue mohon bantuan lo-lo, gue sekarang lagi kempes, kalo nggak percaya liat aja dompet gue” Jino menyodorkan dompetnya yang tinggal uang lima ribu didalamnya.
“Kacian deh” Ujar Novi mengejek.
“Oke deh, demi kesuksesan lo, kita sumbang deh” Kata Lupi setuju.
Mereka langsung memberikan uangnya ke Jino.
“Makasih pren, semoga Tuhan membalas kebaikan lo semua” Ujar Jino sumringah.
“Amiiin” Jawab mereka serempak.
Tak lama kemudian dosennya datang.

*** Tujuh ***
Kuliahpun telah usai, anak – anak kelasnya Jino pada berhamburan keluar layaknya semut yang rumahnya dibongkar, pada saat itu juga suasana siang itu panas sekali, bayangin aja panasnya udah sampai diubun – ubun kepala, pokoknya panas banget, maklum jam udah menunjukkan pukul satu siang.
Sementara itu Jino udah menunggu disamping mobilnya Fela, Jino melamun sejenak sembari menghayati angin yang menerpanya, hatinya seakan berbicara sendiri, ada yang beda dalam benaknya, Jino mulai menyadari kalo dirinya sedang dihempas badai asmara.
“Aku mencintaimu Fel, tapi apakah kamu mau sama cowok seperti aku ini?” hatinya bertanya – tanya “Kalopun seandainya kamu nolak aku, apa yang bisa kuperbuat dengan perasaan ini?” Jino semakin gelisah “Lo nggak boleh mimpi Jin, lo bukan siapa – siapa yang bisa mendapatkan bidadari itu, Apakah mungkin Tuhan mengirim Fela buat ngegantiin Asti?” Bisik Jino yang lagi duduk dihidung mobilnya Fela sambil mendekapkan tangannya.
Cinta memang terkadang seperti makanan, kadang makanan itu enak dan ada juga makanan yang nggak enak, jadi cinta itu enak kadang juga nggak enak, tapi Jino cukup mengerti bila suatu saat kesedihan itu akan datang begitu saja.
Tak lama kemudian Fela menepuk pundaknya Jino yang sedang ngelamun, otomatis lamunan Jino buyar.
“Hayo, lagi ngelamunin ya?” Sapa Fela mengagetkan.
Jino yang menoleh hanya tersenyum tipis.
“Enggak, lagi menghayati angin aja” Kata Jino singkat.
“Sok pujangga kamu, yuk kita berangkat Jin?” Ajak Fela sambil membuka pintu mobil.
“Kita mau kemana Fel? Nggak naik motorku aja?” Tawar Jino.
“Enggak deh, soalnya panas, kita ke plaza Surabaya, cari buku” Jawab Fela dan langsung masuk mobil lalu diikuti dengan Jino masuk ke mobilnya juga. Mereka langsung meninggalkan kampus cemara dan menuju ke plaza Surabaya.
Nggak sampai setengah jam mereka udah berada didalam plaza Surabaya, mereka berjalan berjajar tapi kemudian Fela langsung mendekap tangannya Jino, otomatis Jino jadi gugup setengah mati, Jino senang dan happy banget bisa bersama Fela berdua, tapi Fela menganggap bahwa Jino adalah teman baik, bukan kekasihnya karena Fela nggak ada perasaan apa – apa ama Jino, mungkin kalo tahu dia menganggap sahabat, Jino akan sedih. Hari ini Jino menganggap dirinya seperti Romeo sedangkan Fela julietnya, Jino senyum – senyum sendiri, kontan aja Fela jadi curiga “Ada apa Jin? Kok senyum – senyum sendiri?” Tanya Fela.
Jino gelagapan dan langsung mencari alasan “Gue inget Dewa kejebur kali pas ulang tahun, jadi gue inget, lucu banget kejadian itu” Kilah Jino sekenanya.
Fela langsung percaya “Kok bisa?”.
Jino mengalihkan pembicaraannya “Kita kemana Fel?”
“Ke Gramedia aja, aku mau cari novel” Jawab Fela dan mereka langsung menuju ke Gramedia.
Sesampai di Gramedia, mereka menuju ke bagian fiksi, Jino berjalan menelusuri jalan sempit yang kanan kirinya rak yang berjejer novel bermacam – macam, sedangkan Fela asyik mencari – cari novel yang ingin dibelinya.
Jino melihat sebuah tulisan best seller yang disitu ada novel – novel yang laris, lalu Jino mengambil satu buat Fela, mungkin aja Fela mau dan biasa cari perhatian, lalu Jino menghampiri Fela yang sedang bingung mengotak – atik novel yang ada di rak.
“Cari novel apa Fel?” tanyanya.
“Nggak tahu, aku bingung Jin” Jawab Fela.
“Nggak usah bingung, kalo bingung tidur aja disini, biar disangkain orang – orang bidadari lagi nyasar tidur di Gramedia, he…he…he..” Goda Jino tersenyum.
“Bercanda deh, aku serius nih” Rengeknya dan mencubit pipinya Jino yang tembem.
“Auww!!” Jino mengusap pipinya dan hatinya Jino sangat bahagia ketika melihat Fela manja. Sesaat itu tatapan Jino menatap lekat – lekat ke wajahnya Fela yang putih bagaikan salju gunung himalaya. Jino tertegun “Sungguh cantik kau Fela, kenapa aku nggak bisa menghindar dari sinar wajahmu itu, apakah aku suka sama kamu.”Batin Jino bertanya – tanya
Fela sadar kalau dari tadi diliatin Jino terus.
“Ngapain kamu liat aku terus, emangnya ada yang aneh dari diriku..?” Fela rada – rada salting.
Jino jadi gelagapan.”Eng..Enggak ada yang aneh kok” kilah jino sambil masang muka bloonnya.
“Aneh kamu itu Jin” Fela meneruskan mencari novelnya, sedangkan Jino mengekori dibelakangnya.
“Oh ya Fel! Ini lho aku bawain novel bagus yang sekarang ini best seller dan difilmin” Jino menyodorkan novel itu, Fela langsung tersenyum. “Ya ini yang aku cari, Dealova karangan Dyan Nurandyah, kamu dapat dimana Jin..?”
“Disitu” Jino menunjuk tempatnya.
“Makasih ya Jin, kamu pinter juga milih novel kesukaanku” Ujar Fela kesenengan. Jino baru ingat ketika mau masuk Gramedia ada counter kecil didepannya yang menjual bermacam – macam bunga.
“Sebentar Fel, aku tinggal dulu” kata Jino langsung ngeloyor pergi .
Fela hanya geleng – geleng kepala,heran!!.
Pas Fela lagi mencari novel ada seseorang yang nyapa dari belakang dan menutup matanya, Fela menganggap bahwa dia adalah Jino.
“Udahlah Jin, lepasin tangan kamu, malu diliatin orang-orang tahu” rengek Fela.
Sementara yang nutupin matanya adalah Kevin, lalu Kevinpun melepaskannya, Fela langsung membalikkan badannya dan kaget melihat didepannya adalah Kevin.
“Ngapain kamu kesini” Semprot Fela marah.
Kevin hanya tersenyum tipis. “Gue kesini mau rujuk lagi ama kamu, gue tahu sekarang lo ama cowok kribo itukan.?” Kata Kevin
“Enggak ada kata rujuk Vin” Tolak Fela mentah – mentah.
“Kalo lo nggak mau, gue akan jerit disini bilang ILOVE YOU biar semua orang denger, terutama Jino biar dia sakit ati.” Ancam Kevin
Fela jadi takut dan menurut “Oke lo mau apa ..?”
“Gue tunggu lo, diford cort lantai atas sekarang juga, please Fel bukannya gue egois, tapi gue sayang ama lo, gue mencoba melupakanmu Fel tapi tak bisa, gue pingin ngomong sesuatu sama lo Fel” Jelas Kevin serius.
Mendengar ucapan Kevin hatinya Fela mulai terbuka lagi. Memang sih.., Fela masih menyimpan bubuk kasih sayang ama Kevin, karena Fela juga berusaha melupakan Kevin yang egois itu tapi tak bisa. Sejak kedatangan Jino, Fela bisa sedikit melupakannya tapi apa daya rasa cinta., cintanya Fela tumbuh lagi bersemi kembali ketika Kevin bilang sayang, dasar cinta memang sering nggak konsisten.
Sementara itu Jino masih berada di counter bunga lagi memilih – milih bunga yang cocok buat Fela. Lalu Jino mengambil setangkai bunga mawar yang terbungkus rapi dan ada tulisan love you forever. Jino senyum – senyum sendiri melihat tulisan itu, dia lagi membayangkan kalo saja Fela menerimanya pasti seneng.
Penjual bunga pun ikut curiga.”Ada apa mas.? Kok senyum sendiri, buat pacar ya mas?” Tebak penjual bunga itu
“Ya mbak! doain aja biar calon pacar saya seneng” kata Jino sambil menyodorkan uang dari sakunya “Makasih mbak” pamit Jino dan ngaloyor pergi.
Penjual itu hanya geleng – geleng kepala heran. Bersamaan dengan itu Fela masih ngobrol ama Kevin.
“Tapi Vin! gue nggak bisa, Jino gimana..?” Fela bingung.
“Lo kan bisa boong ama dia, bilang aja kalo ada keperluan mendadak, kalo lo ingkar, gue akan bunuh Jino supaya tidak ada yang menggangu hubungan kita lagi!” Ancam Kevin lagi.
Fela kaget mendengar ancaman Kevin, dia takut kalo sahabatnya yang nggak ikut – ikut bisa terluka, akhirnya fela menuruti permintaan Kevin. ”Oke, tunggu aku sepuluh menit lagi di fordcort.” Ujar Fela terpaksa.
Kevin langsung mengecup keningnya fela yang reaksinya diam aja. Bersamaan itu Jino tersentak kaget melihat kejadian itu, Jino seakan – akan tidak bisa bergerak melihat Fela dicium orang yang dibencinya, Jino mengucek – ucek matanya, apakah itu benar Fela dan Kevin, setelah diucek – ucek ternyata penglihatannya benar bahwa itu adalah mereka, Jino langsung lemes dan sedih. Tak lama kemudian Kevin pergi, lalu Fela berjalan kearah Jino yang sedang mengamatinya.
Kontan aja Jino langsung blingsatan melihat Fela menghampirinya dan bunga yang dibawahnya diselipkan didalam bajunya, tanpa pikir panjang Jino membalikkan badannya sambil mengambil buku disampingnya supaya Fela nggak curiga kalau Jino habis melihatnya.
“Jin, kemana aja kamu? Tak cariin dari tadi kok nggak ada”.
“Habis dari toilet” Bo’ong Jino sambil membuka – buka buku yang dipegangnya.
“Makanya kamu kok nggak ada” Ujar Fela.
“Jin, makasih kamu telah milihin aku novel ini”
“Sama – sama” Jawab Jino singkat.
“Kamu kok lesu gitu?” Kata Fela.
“Siapa yang lesu, kamu salah liat kali” Kata Jino seenaknya.
Fela hanya tersenyum tipis.
“Jin, sebelumnya aku mau minta maaf” Fela menunduk dan nggak tega membohongi Jino.
“Minta maaf apa?” Sahut Jino penasaran.
Fela diam beberapa detik
“Aku ada keperluan mendadak, soalnya aku ditelpon mama suruh pulang secepatnya, kamu pulang sendiri ya?” Bo’ong Fela.
Jino udah curiga kalo Fela bo’ong “Ya udah deh, nanti aku dijemput ama Dewa, gampang, gak usah dipikirin” Jawab Jino nyengir maksa.
Kemudian HPnya Fela bunyi, Fela keliatan gugup ketika melihat layar HPnya dan langsung dimatikan.
“Siapa yang mscall Fel?” Tanya Jino.
“A…h, anu, mama aku” Kilah Fela sekenanya, padahal yang mscall dia adalah Kevin.
Jino rada – rada curiga melihat wajahnya Fela yang gugup “Ya udah ya Jin, aku pulang dulu, udah ditunggu mama” Pamit Fela tanpa dosa dan langsung meninggalkan Jino.
Jino hanya tercenung melihat Fela meninggalkannya.
 
*** Delapan ***
Cinta itu memang rumit dan sulit untuk dimengerti, Jino lagi bingung karena dia nggak yakin kalo Fela disuruh pulang sama mamanya, dia yakin bener kalo Fela bohong, itu terlihat dari sorot matanya, itu selalu muter – muter dipikirannya, apalagi ketambahan ketemu ama Kevin, mungkin ada janji ama Kevin kali, Jino semakin stress mikirin hal itu, emang sih orang yang kita sayangi dan kita cintai berpeluang besar untuk nyakitin hati kita, realitanya sekarang, cinta memang butuh pengorbanan dan butuh kesabaran tulus dalam menggapai cinta kita, sekarang tau sendirikan, Jino udah meluangkan waktu buat cewek yang dicintainya, tapi malah Jino yang ditinggal sendirian bak kulit kacang yang abis diambil isinya.
Tak lama kemudian Jino keluar dari Gramedia mencari wartel untuk menelpon Dewa, sesampai disana Jino langsung memencet nomernya Dewa.
“Tut…tut…tut…, halo” terdengar seseorang disana.
“Halo, assalamu alaikum”.
“Wa alikum salam”
“Bisa bicara dengan Dewa?” Tanya Jino.
“Dewanya lagi pergi, hubungi aja HPnya, ini siapa?”.
“Ini Jino tante”.
“Oh kamu Jin, tadi Dewa pamitan katanya keluar ama Lupi dan temen – temennya.”.
“Ya udah tante, makasih, assalamu alaikum” Jino langsung menutup telponnya.
Lalu Jino memencet nomer HPnya Lupi dan Dewa ternyata keduanya tidak aktif, kemudian nelpon Indah dan Novi ternyata tidak ada, dasar apes!.
“Fuck” Gerutu Jino kesal sambil mengacak – ngacak rambut kribonya.
Food cort Plaza Surabaya.
“Hai Fela” Sapa Kevin sembari melambaikan tangannya.
Fela menghampiri Kevin lagi duduk di meja makan.
“Ternyata kamu datang juga” Kata Kevin tersenyum.
Fela masih terdiam.
“Kenapa sih kamu diam Fel? What’s wrong?”.
Fela manjawab menunduk “Aku nggak enak sama Jino”.
“Jino lagi lagi, apa nggak ada yang lain...?” Kata Kevin meninggi.
“Dia terlalu baik Vin sama aku, aku jadi merasa bersalah sama dia” Kejar Fela berkaca – kaca.
Melihat Fela menangis, Kevin jadi lunak.
“Udahlah Fel, lo jangan nangis, gue tahu kalo lo sahabat baik ama dia, tapi gue sayang ama kamu, gue nggak bisa ngelupain lo Fel, gue janji, gue nggak bakalan ngulangin kesalahan masa lalu gue, I promise Fel!” Jelas Kevin lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, Fela jadi kaget “Nih buat lo Fel, sebagai tanda cinta gue”.
“Apa ini Vin?” Fela mengambilnya lalu membukanya, perasaan Fela jadi seneng ketika yang dibukanya sebuah cincin permata.
“Makasih Vin” Ucap Fela pelan.
“Lo mau rujuk ama gue?” Kata Kevin sambil memegang tangan Fela.
Fela hanya diam tak menjawab.
Setelah beberapa detik Fela berujar “Sebenarnya gue juga sayang sama kamu, tapi kamu egois dan sering kasar sama aku”.
“Gue janji mulai sekarang gue nggak akan kasar ataupun egois sama lo, lo bisa berteman sama Jino, gue tidak akan ngelarang kamu bergaul sama Jino” Kata Kevin mengambil hatinya Fela.
Mendengar kalimat dari Kevin, Fela langsung tersenyum bahagia.
“Gue akan meminta maaf sama dia besok karena sebulan kemarin gue ngancem Jino, gue merasa bersalah” Bujuk Kevin megambil hatinya Fela.
Fela tambah bahagia melihat kesadaran Kevin “Makasih Vin, kamu bisa ngertiin aku” Ujar Fela bahagia.
Sementara itu Jino bingung berjam – jam, sambil mikir gimana dia harus pulang, apalagi jarak antara Plaza Surabaya dengan rumahnya jauh, Jino masih tercengung di trotoar.
“Aduh, gimana ini, teman – teman nggak ada, gue pulang sama siapa lagi, ayo Jino, mikir, mikir!” Batin Jino nggak tenang, kemudian Jino melihat jam tangannya, jam udah menunjukkan setengah lima sore, Jino ngedumel dalam ati “Fuck, udah sore lagi, mendingan gue makan aja di McD biar nggak stress.
Kemudian Jino menuju McD Plaza Surabaya, belum sampai masuk ke McD, tiba – tiba pandangannya Jino? melihat sosok Fela dan Kevin lagi bergandengan mesra, seakan tak percaya apa yang dilihatnya, khawatir ketahuan mereka, kontan aja Jino langsung sembunyi dibalik tembok, Jino terus mangamati mereka jalan didepan McD hingga pintu keluar Plaza Surabaya. Jino lemes tanpa daya melihat kejadian itu, hatinya terus berdegup kencang, Jino merasa yakin dirinya dibohongi. Jino benci sama Fela karena dia bohong, Jino ingin menghampirinya dan memarahinya tapi dia mengurungkan niatnya karena Jino bukan siapa – siapanya, dia bukan pacarnya yang bisa memarahinya, akhirnya Jino nggak jadi makan dan keluar dari Plaza Surabaya dengan perasaan hancur dan sedih.
Memang benar apa kata Gibran, cinta itu menyimpan beberapa pedang yang siap menghunus siapa saja yang berani menyentuh cinta. Emang sih penderitaan dan kebahagiaan beda tipis, ya mungkin kalo diibaratin jaraknya 5 cm, Jino ingat yang dibilang Lupi, jangan pernah merasakan kebahagiaan sebelum kamu merasakan suatu penderitaan, kadang kita bahagia tapi saat itu juga ada penderitaan, sakit rasanya kalo cewek yang kita cintai nggak jujur sama kita, apalagi kalo bo’ong, cinta memang tak pernah bisa dimiliki, Jino nggak tahu harus kemana, hatinya hancur dan sedih, serasa ingin berteriak sekeras – kerasnya, dia ingin pulang tapi rasanya nggak pantas pulang membawa penderitaan, itulah yang dirasakan Jino sekarang ini, tapi dia yakin suatu saat Fela akan menjadi miliknya, Jino pasrah.
Waktu berjalan dengan cepat, mega – megapun kelihatan merah, angin menjelang malam mulai berhembus menerpa kehidupan disekitarnya, Jino sudah berada di jembatan sambil melihat keindahan monumen kapal selam yang kokoh dan menawan, jalan – jalan mulai macet ketika orang – orang pulang kerja, tapi Jino masih terpaku melihat sungai, karena hatinya masih hancur dan sakit, kemudian Jino mengeluarkan bunga dari tasnya, bunga itu terus diamatinya “Sungguh malang nasibmu bunga, bunga yang manis, bunga yang indah” Jino melihat tulisan itu, lalu Jino mengambil dan merobek – robek tulisan yang bertuliskan I LOVE YOU FOREVER, “Cinta memang rasional” Batin Jino. Lalu bunga yang dipegang kemudian dibuang ke sungai, bunga itu jatuh melayang tertiup angin seperti hatinya Jino yang hancur karena cinta, bunga itu lambat laun hilang mengikuti arus sungai.
Suara adzan bergemuruh dimana – mana, lampu – lampu kota mulai bergemerlapan, Jino masih terpaku duduk diatas pagar jembatan “Udah Maghrib, nggak terasa cepat sekali waktu ini, gue harus tegar, gue laki – laki, gue harus kuat menghadapi masalah cinta, mendingan gue pulang, kasihan tante gue nunggu” Bisik hatinya terusik.
Jino akhirnya beranjak pergi dari tempat itu.
Jino berjalan menelusuri trotoar disepanjang jalan itu, tak terasa Jino sampai didepan hotel Sahid, Jino menghentikan langkahnya dan menunggu taksi lewat, ketika itu Jino melihat sedan putih melintas dan berhenti didepannya, lalu ada seorang cewek rambutnya panjang keluar dari mobilnya, dipikir itu tamu hotel, tapi cewek itu menghampiri Jino .
“Kamu Jino ya?” Tanyanya mengagetkan Jino.
Jino mikir, perasaan dia pernah kenal, siapa ya? Kok seperti Rein, teman gue SMA, Jino rada – rada nggak percaya.
“Hei, ini gue? Rein! masa’ lo nggak inget?” Tanya lagi.
Jino hanya diam mengamati cewek itu, Jino masih membuka ingatannya, ini pasti Rein, persis, nggak salah lagi “Kamu Rein dari Jogja” Ujar Jino.
Rein manggut – manggut dan langsung memeluk Jino seketika “Gue kangen ama lo Jin, kangen sekali, lo kejam nggak pernah pulang” Rengek Rein manja.
“Udah – udah, malu dilihatin orang tuh” Jino melepaskan pelukan Rein.
“Lo tambah gondrong aja apalagi kribo, apa ini rambut asli Jin?”.
“Bukan, ini rambut palsu” Jawab Jino singkat.
“Masa sih” Seketika itu rambutnya Jino ditarik oleh Rein
“Auw…auw” Rengeknya kesakitan.
“Sorry – sorry, gue kira ini rambut palsu”.
“Makanya liat - liat dong, mana yang asli dan yang palsu, lu tau..! nih rambut mahal harganya” Omel Jino.
“Alaa sok belagu amat! Sok keren lo Jin.” Balas Rein.
Jino tersenyum tipis
“Yuk kita cabut, lo anterin gue ke kampus,” Ajak Jino.
“Ngapain ke kampus, ini kan udah malem” Ujar Rein.
“Soalnya gue mau ngambil motor gue dikampus”.
“Emangnya lo naik apa kesini” Rein bertanya lagi.
“Ceritanya panjang Rein” kata Jino singkat
Sedangkan Rein ngomel – ngomel padahal dia ingin ngobrol panjang, karena udah 2 tahun nggak ketemu.
*** Sembilan ***
“Tok…tok…tok” Suara ketukan pintu kamarnya Jino, dia yang masih ngiler langsung terpelanting jatuh ke lantai, gedebug…..! “Aduh, ngagetin aja” Gerutu Jino.
“Jin…jino!, udah siang, bangun! Ada tamu, Rein” Kata tantenya dibalik pintu.
“Ya tante, sebentar” Jino bangkit lesu dan membuka pintu kamarnya.
“Itu loh, ditunggu Rein di ruang tamu”.
“Rein tante..! suruh nunggu sebentar, Jino mandi dulu” Ujar Jino sambil mengucek – ngucek matanya.
Setelah selang beberapa menit Jino datang menghampiri Rein yang sedang duduk di sofa “Hei Rein, ada apa?” Tanyanya.
“Mau ngajak lo nonton” Jawab Rein.
“Males ah”.
“Lo kan udah janji kemarin malem”.
“Oh ya, tapi Rein, gue nggak punya…” Jino menghentikan kata – katanya.
“Uang maksud lo? Tenang aja, gue yang traktir” Tebak Rein asal.
Jino cekikikan.
“Emangnya lucu lo nertawain gue? Gue benci deh ama kamu” Kata Rein dongkol.
“Sorry – sorry, gitu aja marah, lo nggak malu nonton ama gue?” Kelak Jino.
“Ngapain gue harus malu, lo kan teman gue, terus terang aja, gue nggak suka lo ngomong gitu”.
Jino hanya tersenyum kecil.
“Lo kan udah janji kemarin malem” Katanya lagi.
“Oh ya lupa, tapi Rein, lo pikir sekali lagi deh, masa’ cewek cakep jalan sama orang jelek?”..
“Kalo lo ngomong gitu lagi, gue kitik – kitik lho, bilang aja kalo lo nggak mau, pake alasan segala” Hardik Rein.
“Mau sih mau, siapa sih yang nggak mau diajak cewek cantik kayak lo”.
“Mulai deh, mulai lagi deh, udah ah, gue nggak bercanda” Ujar Rein lembut.
“Iya deh, gue serius, ngomong – ngomong lo ke Surabaya ngapain? Kok nggak ngabarin kalo lo datang kesini? Dan sekarang tinggal dimana?” Tanya Jino.
“Udah telat nanya pertanyaan itu” Jawab Rein sewot.
“Ngambek nih ye, asal lo tahu aja Rein, zaman sekarang kalo gadis sering ngambek bisa – bisa menimbulkan bercak – bercak bisul di wajah dan yang serem yaitu pikun” Ledek Jino.
Seketika itu perutnya Jino langsung dikitik – kitik oleh Rein sampai Jino ampun – ampun.
Mereka pun berangkat menuju gedung bioskop Twenty One.
“Rein, rame banget, sekarang hari apa?” Tanya Jino yang keluar dari mobilnya.
“Hari Minggu, emangnya napa pake nanya hari?” Jawab Rein sambil mengunci pintu mobilnya.
“Gue kok jadi pelupa gini” Jino geleng – geleng kepala.
“Makanya jangan sering makan pantat ayam” Semprot Rein.
“Kalo gue sih nggak mau makan pantatnya ayam tapi gue doyan ama pantat lo yang sexy itu, ha…ha…” Jino ngakak terpingkal – pingkal.
“Udah – udah, gue nggak bercanda, yuk kita beli tiket filmnya, udah mulai nih” Rein langsung menyeretnya masuk kegedung bioskop.
Setelah beberapa jam kemudian filmnya sudah selesai, orang – orang pada keluar dari gedung bioskop, termasuk Jino dan Rein.
“Filmnya bagus ya Jin? Sedih banget deh” Kata Rein.
Jino hanya diam, Jino ingat kejadian film itu persis yang dialaminya, emang sedih ketika kita mencintai seseorang tapi orang itu nggak cinta.
“Lo sakit ya? Kok diam aja?” Tanyanya curiga.
“Enggak, gue nggak sakit kok” Kelak Jino singkat.
Rein udah curiga kalo Jino hari ini sedih, mungkin masalah cewek.
“Yuk kita makan di café kesukaan gue” Rein mencoba menghibur.
“Apa nggak kesorean? Sekarang aja udah jam lima” Ujar Jino.
“Nggak, yuk kita berangkat”.
Mereka menuju mobilnya Rein.
Pas mereka di dekat mobilnya Rein tanpa disengaja Jino melihat mobilnya Fela masuk di plataran parkir bioskop, Jino bertanya – tanya dalam hatinya “Masa’ itu mobilnya Fela? Tapi ngapain dia kesini?” Jino terus melihat sampai mobilnya berhenti, Fela keluar dari mobilnya bersama Kevin, tanpa pikir panjang Jino langsung masuk ke mobilnya, Rein hanya mengamati Jino “Aneh, nggak salah lagi, itu Fela!” Jino memukul dashboard “Fuck Fuck, gue nggak boleh cemburu, dia bukan siapa – siapa gue”.
“Jin, ngapain Lo? kok kelihatan marah gitu? Lo nggak setuju gue ajak ke café?” Rein curiga.
“Setuju, siapa yang nggak setuju” Jino menyembunyikan kemarahannya.
“Error Lo!!”Kata Rein sambil menyalakan mobilnya.
Jino hanya tersenyum palsu.
Mobil itupun melintasi Kevin dan Fela yang sedang menuju gedung bioskop, Jino hanya bisa melihat dari dalam kaca mobil, Jino semakin yakin kalo mereka berdua comeback lagi, Jino jadi sedih melihat Fela jalan bareng sama Kevin. Sepanjang perjalanan Jino hanya diam.
“Jin, lo udah punya cewek?” Tanya Rein tiba – tiba.
“Belum, lagi nyari” Jawab Jino singkat, lalu Jino menyalakan radiomya.
“Oke guys, sobat muda yang lagi stress, kecewa, broken heart, sebuah lagu dari Iwan Fals kupersembahkan untuk kalian” Ujar penyiar radio tersebut.
Kemudian terdengar lagunya Iwan Fals yang sedih, mereka meresapi lagunya hingga Jino menirukan reffnya dengan perasaan sedih.
“Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila ternyata kau mendua membuatku terluka, tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu, jangan pernah memilih, aku bukan pilihan”.
Rein terpana, Rein bisa merasakan kesedihan Jino, Rein udah menduga pasti masalah cinta “Kenapa Jin? Jangan biarkan hati lo terluka, kamu laki – laki, kamu harus kuat” Batin Rein bertanya-tanya lalu butiran air matanya jatuh satu per satu di pipinya yang menawan.
Jino tersentak kaget ketika menoleh ke arah Rein “Ada apa Rein, kenapa lo menangis?” Tanya Jino seketika.
Rein mengusap air matanya cepat-cepat. “Eh.. nggak ada apa – apa” Kata Rein tersendat – sendat
“Gue sedih melihat lo menyanyikan lagunya Iwan Fals, seakan – akan kau dikecewakan orang lain” Sambung Rein lagi.
Jino menarik nafas dalam – dalam “Emang Rein, lagu itu artinya sangat mendalam bagi gue, cinta memang sulit untuk dipahami, udahlah nggak usah dibahas” Kata Jino sedih.
Tak terasa mobilnya melesat jauh meninggalkan gedung bioskop.
Sebuah café di Surabaya….!
Alunan musik biola terdengar sangat merdu, alunan itu mengiringi kenikmatan orang – orang yang merasakan hidangan makanan di café itu, sedangkan Jino masih diam menghayati alunan musik biola.
“Jin, what something wrong? I help you any time, please cerita dong apa masalahmu, kalo lo menyimpan masalahmu sendiri, lo akan terkatung – katung.”
Jino tidak mengeluarkan kata sedikitpun.
“Ayolah Jin, cerita? Dari tadi lo hanya diam aja, apakah gue punya salah sama lo tadi? Kalo gue salah, gue minta maaf” Ujarnya lagi.
Jino membuka perkataannya “Lo nggak ada kaitannya dengan ini”.
“Lalu apa? Cerita dong” Desak Rein.
“Gue nggak tahu harus bilang apa ama lo, gue malu nyeritain ini ama lo” Ungkap Jino.
“Gue kan sahabat lo dari SMA, siapa tau gue bisa Bantu masalah lo”
Akhirnya Jino nyeritain semuanya pada Rein, dari dia kenal, dibohongi di Plaza Surabaya hingga dia ketemu Fela di bioskop tadi, Rein hanya diam sedih mendengar cerita Jino.
“Tapi lo udah nembak dia” Tanyanya.
Jino menggelengkan kepala.
“Kalo lo cinta ama dia, lo harus tegas, lo kan belum tahu kalo dia come back lagi ama Kevin, lo nggak boleh buruk sangka dulu, siapa tahu dia hanya berteman, lo kan belum tahu dari mulutnya sendiri”.
“Tapi Rein, gue nggak berani nembak dia, sejak perasaanku berubah ke dia, seakan – akan mulutku udah terkunci oleh kata – kata cinta” Potong Jino.
“Lo laki – laki Jin, lo harus bisa mengucapkan kata – kata itu” Desak Rein.
“Gue coba melawan mental gue yang lemah ini” Ujar Jino.
“Ya gitu dong” Kata Rein tersenyum.
“Rein, gue besok pulang ke Jogja, gue ingin intropeksi diri dan menenangkan pikiran”.
“Terserah deh, lalu kuliah kamu?” Tanya Rein.
“Gue bolos aja”. Ucap Jino.
Rein adalah sahabat dekat Jino sejak SMU di Jogja, jadi Rein tahu tetek bengeknya Jino kalo ada masalah, dia di Surabaya juga menuntut ilmu di Unversitas Airlangga, dia anak fakultas psikologi jadi dia cocok buat nampung permasalahan – permasalahan yang sulit terutama masalah cinta. Jino dan Rein udah lama nggak ketemu, udah 2 tahun lamanya mereka berpisah, dulu ketika Jino mau berangkat kuliah di Surabaya, Rein pingin ikut dan kuliah disana tapi Orang tuanya nggak setuju dengan usulnya. Nggak tau kenapa akhirnya Rein mendapat restu dari Ortunya kuliah disana. Rein bahagia banget bisa kuliah dan ketemu sahabat dekatnya. Lalu Rein didaftarin ama Omnya kuliah Di UNAIR dan ngekos di Surabaya.
*** Sepuluh ***
Seperti biasanya Dewa dan Lupi nongkrong di taman, biasa ngeceng di pagi hari, merefreshkan mata, katanya sambil ngelirik – ngelirik cewek cakep.
“Wa’, sudah 2 minggu Jino nggak masuk kuliah, ada apa ya?” Tanya Lupi ke Dewa yang sedang ngamatin cewek yang sedang melintas.
“Nggak tahu tuh, gue juga nggak pernah hubungin dia” Jawab Dewa.
“Masa dia sakit atau mati kali ya?” Lupi bercanda.
“Hust, ngomong apa lo itu” Dewa mendelik ke arah Lupi.
Tak lama kemudian Indah dan Novi datang menghampiri dan bergabung dengan mereka.
“Wa’, barusan gue dari rektorat ketemu sama Pak Woko, Jino dicariin, katanya Pak Woko, Jino lolos seleksi bea siswa di London” Ungkap Novi ke mereka.
“Hebat tuh anak” Puji Lupi.
”Tapi dia udah dua minggu nggak kuliah” Ujar Dewa.
“Kata tantenya dia pulang ke Jogja” Potong indah.
“Kok nggak ngabarin kita – kita ya?” Dewa heran.
“Katanya sih dia pulangnya keburu” Jelas Indah lagi.
Kemudian Lupi melihat Fela dan Kevin menuju ke arah ganknya. “Hei…hei…, tuh ada Fela sama cowok” Lupi memberi tahu ke ganknya.
Mereka langsung melihat Fela dan Kevin dari sudut kampus.
“Gila! Cowok itu ganteng banget” Ujar Novi heran..
“Cowok itu Kevin, mantan pacarnya Fela tapi kok sekarang nempel lagi ya?” Ungkap Dewa.
“Jangan – jangan come back lagi?”Kata Lupi sekenanya.
Kemudian Fela dan Kevin menghampiri mereka yang sedang duduk di taman “Sorry nganggu, Jino kemana?” Tanya Fela ke mereka.
“Jino nggak masuk dua minggu ini” Jawab Dewa.
“O…h, makanya selama ini aku nyariin dia kok nggak ketemu”.
“Emangnya ada apa Fel?” Tanya Dewa.
“Kita mau ngundang Jino, untuk ngerayain kita”.
“Maksud kamu?” Dewa nggak paham.
“Kita jadian lagi” Mendengar ucapan Fela, semuanya kaget.
“Selamat deh buat kalian, nanti gue bilangin Jino” Ucap Dewa terpaksa.
“bilangin ke Jino Hari sabtu malam dirumahku, jam delapan, Ok? Aku pamit dulu” Fela dan Kevin meninggalkan mereka.
“Kasihan Jino, orang yang dicintai ternyata sudah punya cowok” Ujar Indah
“Mungkin Jino akan patah hati lagi” Tambah Novi.
“Cewek memang bullshit” Kata Lupi dongkol.
Dewa hanya geleng – geleng kepala.
Mereka tidak mungkin memberitahu Jino karena dia pasti sakit hati melihat Fela balikan lagi, biarlah Jino tahu sendiri. Dewa, lupi, Indah dan Novi sama – sama memikirkan nasibnya Jino sekarang ini, mungkin Jino akan kembali sedih seperti yang dialaminya dulu.
Hari sabtu Jino sudah berada di Surabaya, Jino masih sibuk dengan kadonya, kado ini buat Fela yang isinya sebuah cinderamata dari Jogja, Jino memang sengaja membawanya dari Jogja khusus buat Fela, rencananya dia mau nembak karena dia sudah mempersiapkan mentalnya, Jino sekarang lagi happy banget dan sudah mempersiapkan sebuah bunga mawar yang sudah tebungkus rapi, pokoknya dia seneng hari ini, Jino membayangkan kalo ketemu Fela, dia langsung nembak dan memberikan kado dan bunganya, kemudian Fela menciumnya, hi…hi…, Jino nyengir sendiri sambil ngaca.
Jino nggak tahu kalo hari ini perayaan Fela dengan Kevin balikan lagi, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, Jino melihat ke arah jam “Wah, gue harus buru – buru” Jino ngibrit ke ruang tengah.
“Hei…hei…, stop – stop, mau kemana kamu?” Sergah tantenya yang lagi nonton TV.
“Itu tante, kerumah teman” Jino alasan.
Omnya yang lagi duduk disitu hanya geleng – geleng kepala.
“Bo’ong mam, pasti kerumah Fela, kecengan abadinya Jino” Kata Evi.
“Ciee, pake bawa kado segala, plus bunga lagi” Goda omnya.
Jino tersenyum tipis.
“Jangan malam – malam pulangnya!”
“Beres tante”.
“Nih buat jajan” Omnya menyodorkan uang ke Jino, tanpa basa – basi Jino langsung menyambarnya..
Setengah jam kemudian Jino sudah nyampe dirumahnya Fela, ia memencet bel rumahnya, perasaan Jino ketar – ketir ketika pintunya belum dibuka, tak lama kemudian pintunya dibuka Fela.
“Kamu Jin” Sambut Fela tersenyum kecil.
Jino langsung menyodorkan kado dan bunganya “Nih, buat kamu, oleh – oleh dari Jogja” Ujar Jino nyengir.
Fela menerimanya dan mencium bunga itu “Makasih Jin” Ujar Fela senang.
“Fel, aku pingin ngomong sesuatu sama kamu”.
“Ngomong apa?” Tanya Fela penasaran.
“aku….aku…..” Katanya tersendat – sendat.
“Maksudmu apa?” Potong Fela.
“Aku sayang sama kamu Fel, aku cinta” Perasaan Jino lega, seakan – akan bebannya sudah keluar semua.
Fela mendelik kaget, bahwa Jino nggak tahu kalo udah jadian sama Kevin, Fela bingung harus menjawab apa, Fela tertunduk diam.
“Fel, ayo jawab” Jino memegang wajahnya yang lembut.
Fela hanya menggeleng.
“Kenapa Fel? Aku tahu kamu cinta aku” Ungkap Jino.
“Nggak Jin, aku nggak bisa” Ucap Fela.
Seketika itu Jino langsung melumat bibirnya Fela yang lembut itu, Jino seakan – akan berada disurga beberapa detik, Fela langsung mendorong tubuhnya Jino hingga terjatuh.
“Aku nggak bisa menerimamu Jin, aku nggak bisa, nggak bisa!” Fela menitikkan air matanya “Aku udah milik Kevin lagi”.
Jino jadi terbelalak kaget mendengar perkataan Fela “Jadi kamu come back lagi?” Kata Jino sedih.
“Ya jin, aku udah jadian lagi ama Kevin” Urai Fela.
“Kamu kejam Fel, apa artinya semua ini Fel?, kamu dekat dengan aku, seakan – akan kamu suka sama aku tapi kenyataannya nggak seperti yang kubayangkan”.
“Kamu salah Jin mengartikan itu, aku dari dulu menganggap kamu sahabat, nggak lebih” Potong Fela.
“Sahabat Fel?” Jino tersenyum terpaksa, terus melanjutkan kata – katanya “Cuma sekedar sahabat? Sungguh ironis nasibku ini, kukira kamu cinta sama aku, ternyata cewek itu bull shit” Urai Jino sedih.
Fela langsung menampar Jino “Plakkk!, aku benci sama kamu, pergi kamu Jin, pergi, aku nggak ingin acaraku hari ini sama Kevin terganggu oleh kamu” Fela marah dan berkaca – kaca.
Jino bingung dengan perkataan Fela “Kamu udah tampar aku dan kamu bilang aku penganggu, aku terima itu tapi ingat suatu saat kamu akan menyesal jalan sama Kevin karena dia bukan cowok baik – baik, ingat itu Fel!” Jino langsung pergi meninggalkan Fela dengan perasaan hancur.
Fela langsung menangis sedih.
Beberapa menit kemudian Kevin datang dan kaget melihat Fela duduk sambil menangis “Kenapa kamu Fel?” Tanya Kevin.
“Nggak ada apa – apa” Bo’ong Fela.
Kevin melihat kado dan bunga berada dimeja samping Fela “Ini kado dan bunga dari siapa?”.
“Anu…eh…dari Hesti” Fela alasan.
Kevin percaya “Kamu sakit Fel?”
“Ya Vin, sebaiknya kamu pulang, kapan – kapan aja kita rayain” Suruh Fela sambil mengusap air matanya kemudian Kevin pulang.

*** Sebelas ***
Jino masih ngelamun ditaman cinta sambil mengamati bintang – bintang di langit, dia nggak percaya barusan yang terjadi, seakan – akan kayak mimpi, sedih, perih, memikirkan kejadian tadi, dibenaknya masih ingat kata – kata “Nggak bisa Jin, nggak bisa, aku udah milik Kevin”. Jino menjerit keras, kini perasaannya semakin sedih, hatinya hancur, Jino tertunduk lemas tak berdaya hingga dia mengadu pada langit: “Tuhan, mengapa Kau tulis takdir begitu pahit padaku? Dulu Kau ambil Asti dariku, sekarang cewek yang aku sayangi hanya bisa menyakiti hatiku, apakah itu yang Kau tulis padaku,
“Tuhan? Aku hanya hambaMu yang tak berdaya, please Tuhan, please! Tolong hambaMu ini, berikanlah secercah cahaya kebahagiaan untukku, aku tidak sanggup menerima cobaan seperti ini” Tak terasa air matanya Jino mengalir pelan di pipinya, kemudian melanjutkan kata – katanya: “Tuhan, seandainya Fela bukan untukku, berikanlah kekuatan agar aku tidak roboh dalam menghadapi cobaan cinta ini, please….please” Jino semakin sakit hatinya, sendi – sendi mulai terasa bergetar, badannya mulai terasa panas.
Fela terdiam sendiri dikamarnya, dia ngerasa bersalah karena nampar Jino, mulutnya bergetar lirih “Maafkan aku Jin, aku nggak sengaja ngelakuin itu”, sejuta bayangan rasa bersalah selalu mutar – mutar dikepalanya, Fela mengambil kado dari Jino lalu membukanya, dia mengamati cinderamata, sebuah miniatur vespa, Fela tersenyum sendiri, ia melihat sebuah kertas kecil yang terlipat didalam kado itu, Fela mengambil dan membaca tulisan itu:
Hidup memang sebuah perasaan
Kadang perasaan itu menjadi sebuah intuisi hidup
Kadang juga menjadi akar dalam cinta
Karena cinta adalah sebuah perasaan
Yang hidup dalam kehidupan
Fela semakin sedih membaca tulisan itu, matanya mulai berkaca – kaca sambil menatap bunga mawar yang tergeletak dikasurnya.
Tiga jam Jino masih duduk sembari mengamati tulisan di tugu cinta itu “Cinta tak harus dimiliki karena cinta cukup untuk cinta” Desah Jino pelan “Kenapa cinta tak harus dimiliki, kenapa Gibran, kenapa?” Jino menjerit keras dimalam hari lalu Jino memukul tugu itu dengan tangannya hingga tangannya berdarah, darahnya bercucuran mengalir dari tangannya, tapi Jino tidak merasakan sakit sedikitpun karena cinta telah menguasai dirinya.
Hari mulai pagi, matahari kelihatan memerah, udara sejuk terus menerpa kehidupan, Jino terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa sakit ketika dia ingin bangun, tubuhnya seakan berat ketika mau berdiri, tangannya mulai sakit “Gue harus kuat, gue nggak boleh sedih, orang kece nggak boleh tunduk oleh cinta” Jino memaksakan berdiri dan melangkah dengan sempoyongan, penglihatannya terarah pada tulisan di tugu cinta yang ada bercak darahnya, kemudian Jino meninggalkan taman cinta itu.
Tante yang sedang sibuk menyirami bunga di halaman rumahnya kaget ketika Jino datang dan langsung masuk rumah tanpa memberikan salam.
“Jin, kamu darimana aja kok pagi – pagi baru pulang?” Tanya tantenya khawatir.
Jino menghentikan langkahnya “Anu…dari…dari rumahnya Dewa, nginep disana” Bo’ong Jino menggaruk – nggaruk kepala.
“Kalo nginep, telpon, biar tante sama om nggak khawatir”.
“Maaf deh tante, besok – besok nggak Jino ulangi lagi kok” Jino langsung ngeloyor pergi.
Tantenya hanya geleng – geleng kepala.
Evi yang lagi nonton TV langsung curiga melihat Jino masuk kamar dengan muka suntuk “Lo kenapa Jin? Kok nggak happy sih? Tumben lo pulang pagi?” Tanya Evi menyembul dari pintu kamarnya.
Jino hanya diam.
“Tangan lo kenapa kok memar gitu? Habis nonjokin orang ya?” Tanyanya lagi.
“Ng….ng….habis latihan tinju dirumahnya Dewa” Jino alasan, Evipun percaya.
“Gimana kencan kamu tadi malam?” Evi duduk didekatnya Jino.
Jino diam membisu.
“Ditanyain kok nggak jawab sih?” Ulang Evi pelan.
“Sukses” Kata Jino menutupi kebohongannya, setelah itu Evi meninggalkan Jino.
Tak lama kemudian dering telpon di ruang tengah bunyi.
“Halo, assalamu alaikum” Angkat Evi.
“Wa’alaikum salam”, Jinonya ada?” Balas Fela.
“Tunggu sebentar ya”.
Evi langsung memanggil Jino dikamarnya “Jin.. ada telpon”.
Jino menuju ke ruang tengah “Dari siapa mbak?”.
“Nggak tahu tuh” Jawab Evi cuek.
Jino mengangkat gagang telpon “Halo, ini siapa?”.
“Aku Fela Jin, aku…”.
Jino langsung menutup telpon dengan dongkol.
Fela sedih ketika telponnya ditutup, Fela bingung dan nggak tahu harus berbuat apa pada Jino, Jino marah besar padanya “maafkan aku Jin” Batin Fela.
Selesai kuliah Dewa dan Lupi keluar kelas.
“Wa’, perasaan gue sama Jino nggak enak, udah 2 minggu lebih nggak masuk” Ujar Lupi serius.
“Gue juga Lup, tadi malam gue mimpiin Jino ditolak sama Fela, dia bunuh diri” Jawab Dewa.
“Jangan – jangan…” Jawab mereka serempak.
Dewa dan Lupi langsung menuju rumahnya Jino, sesampai disana mobil BMW Z3nya Dewa sudah parkir didepan rumahnya.
“Halo sobat” Sapa Dewa ke Jino yang lagi ngelamun di teras rumahnya.
“Jin, lo nggak pernah kelihatan, kemana aja?” Tambah Lupi.
Jino hanya diam membisu.
“Hei melon kribo, senyum dong!” Goda Dewa.
“Udahlah Wa’, gue hari ini nggak bisa senyum” Sentak Jino.
Mereka langsung diam.
“Ada apa sih, cerita dong, lo nggak boleh marah gara – gara masalah pribadi lo” Ujar Lupi.
“Sorry – sorry, gue hari ini benar – benar kalut man” Kata Jino singkat.
“Emang ada masalah apa?” Tanya Dewa penasaran.
“Gue habis ditolak sama Fela” Ungkap Jino.
“Apaaa” Mereka terkejut nggak percaya, Jino mengungkapkan semuanya pada Dewa dan Lupi, ketika Jino memberikan kado sampai dia mengatakan cintanya, yang membuat Jino sedih adalah Fela menamparnya.
“Lo tau kan, gue nggak pernah ditampar sama cewek, mungkin nasib gue seperti ini, Asti telah pergi sedangkan sekarang gue dihina oleh Fela” Kata Jino selesai bercerita masalahnya.
“Sorry Jin, gue sengaja nggak memberi tahu lo, kemarin Sabtu adalah hari dimana Fela dan Kevin come back lagi, dia ngundang lo Jin” Ungkap Dewa.
“Gue sudah menduga itu” Jawab Jino sedih.
“Gini aja deh, timbang lo sedih mendingan kita ngeceng aja deh di mall” Usul Lupi.
“Gue pensiun dari dunia ngeceng”.
Mereka tertawa ngakak mendengar ucapan Jino.
Besoknya di kampus, Jino pas lagi jalan sendirian, dia melihat Kevin lagi keluar dari mobilnya, Jino pun menghampiri Kevin.
“Vin, gue pingin ngomong sama lo”.
“Silahkan, mau ngomong apa” Jawab Kevin nyantai.
“Gue minta tolong sama lo, tolong bahagiain Fela, seumpama lo nyakitin hatinya, gue juga ikut sakit Vin, kalopun seandainya lo mempermainkan hatinya, gue akan buat perhitungan sama lo” Jelas Jino serius.
“Terserah gue dong, gue mau memperhatikan kek, mau mempermainkan kek, itu pacar gue, itu bukan urusan lo!” Ujar Kevin menghina.
Jino semakin naik darah mendengar perkataan Kevin, pukulan pun melesat tepat ke arah pipinya Kevin “Bugh…” Kevin sempoyongan menerima pukulan Jino.
“Bangsat, berani – beraninya lo mukul gue” Kevin membalas pukulannya ke arah Jino namun Jino dapat menghindar dengan cepat bak spiderman, lalu Jino memukulnya lagi hingga mulutnya Kevin berdarah, kemudian mereka dilerai oleh satpam dan mahasiswa – mahasiswa yang lagi nongkrong disitu.
“awas lo Jin, gue nggak terima dengan lo” Ancam Kevin yang dibawa satpam menjauhi Jino.
Kemudian Jino pergi sebelum gempar di kampus.

*** Dua Belas ***
Setelah kejadian itu, Jino duduk termenung di lapangan basket, perasaannya kalut gara – gara mukulin Kevin, ada rasa bersalah pada dirinya, “Ngapain gue harus mukulin Kevin? ngapain gue harus memperhatikan Fela?” Desis Jino pelan “Fela bukan siapa – siapa gue, Tuhan, tolonglah!!! hambaMu ini.” Tidak kuat menahan amarahnya, Jino menendang – nendang tembok kawat lapangan basket, Jino semakin frustasi.
Beberapa menit kemudian Fela datang menghampiri Jino yang sedang tertunduk, Jino nggak sadar kalo Fela ada disampingnya.
“Kenapa sih kamu selalu ganggu urusan – urusanku?” Ujar Fela marah.
Jino melihat Fela marah – marah sambil nangis, Jino jadi sedih.
“Jawab Jin, jawab!” Fela mendekati Jino.
Jino langsung memeluk erat Fela yang sedang ngomel – ngomel.
“Lepasin Jin, lepasin” Rengek Fela berkaca – kaca.
Jino tetap memeluknya dengan erat.
“Maafin aku Fel, aku nggak bermaksud mencampuri urusan kamu, aku hanya ingin minta Kevin bisa membahagiain kamu”.
Kemudian Jino didorong Fela hingga Jino kebentur tembok kawat di lapangan basket, sampai – sampai jidatnya berdarah, tapi Fela tidak peduli.
“Aku sayang ama kamu Fel…!” desah Jino sambil mengusap jidatnya yang berdarah.
“Aku kan udah bilang, aku nggak cinta ama kamu” tolak Fela. “Aku minta kamu jangan pernah ganggu aku lagi..?” lanjutnya dan Fela pergi meninggalkan jino sambil menangis.
“Felll..?” teriak Jino
Fela pun menoleh dan berlalu begitu saja. Jino hanya bisa terpaku melihat fela pergi seakan tanpa dosa.
Langit pun berubah mendung, hingga meneteskan deraian hujan yang lebat, seolah merasakan kesedihannya, Jino terduduk lemas tanpa daya, tubuhnya jadi basah hingga ia nggak peduli dengan hujan, cinta memang membutakanya.
“bener kata lo Wa, gue harus siap sedih lagi, gue udah merasakannya gue harus tegar dengan masalah ini.!” Jino bangkit dan melangkah pergi meninggalkan lapangan itu,
Tapi kemudian..? ada suara dari belakang memanggilnya.
“Jiiin…tunggu.?.” seru seseorang. Jino membalikkan badannya dan kaget melihat sosok gadis berpakaian putih dalam deraian hujan. Jino mikir sejenak perasaan dia pernah kenal dekat, nggak salah lagi itu Asti, tapi Jino nggak percaya begitu saja, Jino pun mendekat perlahan-lahan mendekatinya.
“Ini aku…Asti” serunya lagi.
Jino semakin yakin kalo didepannya adalah Asti kekasihnya yang meninggal satu tahun yang lalu. ”Asti..! itu kah kamu” pekik Jino ngucek-ngucek matanya.
“Jin peluklah aku” kata Asti pelan.
Jino memeluknya langsung, dia merasakan suatu kebahagaian tersendiri. “kenapa kau tinggalkan aku Asti” Desah Jino sedih.
“Aku nggak bermaksud meninggalkan kamu, tapi takdir Tuhan yang memisahkan kita. Kamu harus sabar dengan semua ini.” Ujar Asti lembek.
Lalu Jino melepaskan pelukannya.
“Kamu harus melawan rasa sedihmu sendiri, kamu harus bisa bertahan Jin, kalo kamu kalah berarti kamu pengecut dengan kenyataan, percaya deh suatu saat kamu akan bahagia..!” Jelas Asti menyakinkannya.
Jino menunduk sediih.
Lalu Asti menghilang. ”astiiiii…” teriaknya dengan keras.
Jino nggak percaya barusan yang terjadi, dia melihat Asti dan memeluknya. Terasa kayak mimpi. “bener yang dikatakan Asti, aku harus kuat”. Batin Jino kemudian meninggalkan tempat itu.
Sejak peristiwa tadi sore, Jino hanya bisa ngelamun dikamar “Apakah itu Asti” pertanyaan itulah yang selalu muter dipikirannya. Lalu Jino mengambil secarik kertas dan menulis puisi sambil melihat bintang dilangit.

* Bayanganmu *
Aku adalah aku,
Aku adalah Bayanganmu Yang selalu mengikuti cintamu,
Kemana kau terbang, Aku selalu manjadi angin bagimu
Saat kesedihan muncul dalam deritaku
Keajaiban muncul begitu saja
Secerca sinar telah menghidupkanku
Aku terbangun dalam derita tak bertepi
Derita dimana membawa kesengsaraan
Aku harus bangkit dan terus bangkit Dari keterpurukan.

Malam itu Fela kerumahnya Hesti. “Hes aku bingung…” Ungkap fela meneteskan air matanya.
“Ada apa fel..,apa yang membuat lo bingung” Tanya Hesti ikut sedih.
“Bayangin coba Jino nembak aku lagi, dan lebih parah lagi tadi sore dia mukulin Kevin. Sebel gue…!”. Urai Fela terisak isak.
“Lo kan tau sendiri aku nggak ada perasaan ama dia, aku hanya menganggap dia sebagai sahabat nggak lebih dari itu, aku benci ama dia Hes..! benci..” Urainya lagi.
“Lo nggak boleh gitu ama Jino, lo harus inget..Fel, Jino banyak berjasa ama lo, gue tau sekarang lo sebenarnya manfaatin dia kan supaya Kevin cemburu, iya kan.?” Ujar Hesti. Fela langsung melotot.
“Lo kok jadi membela Jino sih”. Fela marah.
“Bukannya gue membela Fel, tapi lo nggak boleh sepihak dalam menilai seseorang, Jino tuh sayang banget ama lo”. Jelas hesti lagi.
“Nggak Hes..nggak, pokoknya nggak bisa aku udah milik Kevin”
“lo udah dibutakan oleh ketampanan Kevin, lo nggak inget dulu ketika Kevin nampar lo hingga Jino datang menolong lo, apa lo nggak inget Fel”. Desak Hesti
“Cukup Hes, aku udah merana dengan semua itu” Fela semakin sedih.
“Lo sahabat gue Fel, gue nggak mau lo kecewa lagi ama Kevin, gue nggak mau” ujar hesti menangis dan langsung memeluk Fela. “makasih Hes atas perhatian lo, tapi gue butuh waktu yang tepat”. Jawab Fela menitikkan air matanya.
Satu tahun kemudian

Jino sekarang sudah semester delapan, dia sudah mempersiapkan skripsinya untuk sidang besok. Jino melamun sebentar sambil ngaca. “Waktu berlalu dengan cepat, nggak terasa sekali gue udah mau lulus, Fela – Fela kenapa sih kamu nggak mau membuka hatimu buat Aku, ah fuih..!”. Batin Jino dan memasukkan skripsi ke tasnya, diapun melangkah pergi dari kamarnya. Dia merasa nggak rela dengan kenyataannya.
Sesampai dikampus, Jino bertemu dengan ganknya yang lagi nongkrong ditaman, mereka juga mau menyerahkan skripsi ke dosen pembimbingnya untuk persiapan sidang besok.
“Jin udah siap skripsi lo..?”. Seru Dewa.
“Udah Wa..!” Jawab Jino singkat.
“Kita nggak terasa ya, udah 4 tahun kita bersama-masa dalam suka duka masa kuliah”. Ujar lupi sedih.
“bener lup. Bentar lagi kita akan lulus jadi sarjana dan berpisah”. Tambah Indah ikut sedih.
“Nggak usah bersedih deh, meskipun kita berpisah yang penting kita saling komunikasi” hibur Novi.
“Gini aja deh, timbang kita sedih, mendingan kita toast aja, itung-itung sebagai tanda persatuan dan kesatuan”. Usul Jino.
“Aaayo!” jawab mereka serempak. Mereka langsung bertoast ria, dan ada rasa gembira pada diri mereka, lalu mereka ngeloyor pergi ke dosen pembimbing masing-masing.
Besok paginya pas sebelum sidang, mareka udah ngumpul lagi ditaman dengan memakai pakaian putih dan berjas almamater, semuanya klemis-klemis rapi, terutama Jino yang rambutnya kribo dikuncir ke belakang bak pemain lenong. Lupi yang tadi rambutnya jeprak tersisir rapi. Kalo Dewa sih nggak usah diomongin, kan dari dulu udah rapi. Pokoknya beda banget mereka pada waktu dulu masih kuliah yang mengandalkan prioritas fungky. Sedangkan Dewa ngakak melihat rambutnya Jino yang mirip kayak pendekar majapahit. Pokoknya lucu banget.
“Jin.! Gue dari tadi liat rambut lo, mata gue serasa nggak bisa kedip sedikitpun”. Sindir Dewa.
“Emangnya gue pikirin” jawab Jino ketus. Tak lama kemudian Jino terpaku melihat Fela melintas disudut kampus. Novi jadi curiga melihat Jino diam aja. “Udahlah Jin, lupakanlah dia, lo harus konsentrasi ke ujian sidang lo, lo harus bisa tegar menghadapi kenyataan pahit.” Ujar Novi memegang pundaknya.
Jino hanya bisa tersenyum memaksa ke Novi.
“Yuk kita udah waktunya sidang” ujar Lupi. Mereka ngeloyor pergi ke ruang persidangan.
Dua jam kemudian…!
Jino dan ganknya sorak-sorak merayakan kelulusanya ditaman. ”kita lulus sidang man, lulus…!” Seru Dewa gembira.
“Wa dapat nilai apa di skripsi lo?” Tanya Lupi.
“Gue dapat B” jawab Dewa. “Lo dapat berapa Nov” Lupi ganti nanya Novi.
“Guejuga B” kata Novi.
“Lo ndah” Tanya Lupi ke Indah.
“gue juga dapat B Lup” ujar Indah.
“Gue juga dapat nilai B” ungkap Lupi.
Jino jadi tersenyunm geli mendengar nilai mereka.
“Ngapain lo senyum-senyum sendiri, lo lagi overdosis ya”. Ujar Indah.
“Bukannya gue overdosis tapi liat nilai gue?” jino menunjukkan nilai hasil sidangnya.. kontan mereka langsung kaget melihat nilai Jino yang dapat A.
“Hebat juga lo Jin” Puji Novi. Lalu Hesti datang menghampiri ganknya Jino. “Hei..Jin! selamat ya” ucap Hesti.
“Makasih Hes, oh ya Hes, Fela kemana..?” Tanyanya penasaran.
“Nggak tau tuh! tadi gue ajak kesini dia nggak mau, katanya ada urusan”.
“Fela lagi Fela lagi nggak ada yang lain apa”. Sindir Indah.
“Jangan didengerin Hes..! Indah suka gitu” Bela Lupi.
“Nggak apa – apa kok”. Kata Hesti. Indah hanya mencibir. “Ayo Nov kita cabut aja, gak ada gunanya disini”. Ujar Indah dan menyeret Novi pergi dari tempat itu. “Dasar cewek gak tau adat”. Semprot Dewa.
“Biarin”. Serunya dari kejauhan sambil menjulurkan lidahnya bak biawak.
“Sorry Hes ya” kata Jino. Hesti hanya mengangguk.
“Jin lo punya temen Cakep nggak dikenalin kita – kita” sindir Dewa.
“Sampe lupa gue? Kenalin Hes teman gue yang jelek –jelek”
Hesti langsung berkenalan dengan mereka.
“Kenalin Hes? De…wa cowok paling cool se kampus cemara”. Dewa membusungkan dadanya. Hesti tersenyum geli mendengar celetukannya.
Sementara Lupi hanya diam, karena kalo ketemu cewek yang belum dikenal suka cuek.
“Ayo Lup kenalan masa nggak berani”. Desak Jino. Lupi jadi melotot malu.
“Lupi” kata lupi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Hesti pun membalasnya. ”Gue hesti”
“Gitu dong biar saling akrab” goda Dewa.
Lupi hanya tersenyum sinis.
Malam itu Jino dan Evi lagi nonton TV, sedangkan Om dan Tantenya pergi belanja. “Gimana ujian sidang lo tadi?” Tanya Evi seketika. “Beres mbak seperti biasa lulus tanpa syarat”. Kata Jino bangga.
“Terus setelah lulus lo mau kemana” Tanya nya lagi. Jino bingung harus menjawab apa pada mbaknya. Akhirnya Jino pun jujur. “Aku dapat bea siswa kuliah S2 diLondon”.
“Ah bo’ong lo, nggak mungkin banget gitu loo”. Evi nggak percaya.
“Terserah mbak Evi aja, percaya atau nggak”.
“Bukannya gue nggak percaya..! tapi dapat bea siswa itu sulit sekali Jin..?”.
“memang sulit sekali mbak, gue aja belajar 2 hari nonstop. Ya pada akhirnya usaha nya nggak sia – sia”. Jelas Jino.
Sebenarnya gue ikut ujian seleksi itu hanya sekedar iseng, nggak tau nya gue lulus, tau nggak..? dari seleksi 50 peserta berbagai fakultas hanya 3 mahasiswa yang lolos dan mendapat beasiswa termasuk Jino”. Jelas Jino.
“Hebat lo Jin, mungkin kalo Tante dan Om mendengar mereka pasti seneng, terutama ayah dan ibu kamu”.
“Jangan di beritau dulu deh, biar pas wisuda mereka kaget, maksud Jino sih surprise”.
“Fela tau kalo lo mau pergi ke London”. Mendengar perkataan Evi Jino jadi sedih“. Jino menggeleng. “Emang sih yang membuat gue semangat ikut ujian seleksi, itu karena Fela, gue udah cukup tersiksa karena dia, makanya gue pingin cepet –cepet pergi dari kota ini”. Ungkap Jino.
“Sorry deh Jin kalo gue nanya soal itu yang membuat lo sedih”.
Tak lama kemudian ada suara dering telpon didekat Evi, kontan Evi langsung mengangkatnya. “Halo ini siapa” Tanya Evi.
“Ini Dewa mbak, Jino ada”
“Ooh kamu Wa! Tunggu ya..? Nih telpon dari Dewa” Evi memberikan telponnya. “Halo Wa ada apa?”
“Lo ditunggu anak –anak di café balai pemuda, cepet kesini”. Kata Dewa dan menutup telponnya. Terdengar tut..tut..tut “halo..halo..! sial” gerutu Jino sebel. Ada apa ya, Jino penasaran.
Jino langsung mengeluarkan motornya dan menggeber dengan cepat laju motornya. ditengah perjalanan Jino punya pikiran ngajak Rein, .akhirnya Jino membelokkan motornya kearah kos –kosan Rein.
Jino mengetok – ngetok kos – kosan Rein.
“Spada – spada”. Seru Jino lantang. Rein yang lagi nonton TV merasa terganggu. “Siapa sih..! malam – malam gini ganggu orang happy aja.” Gerutu Rein dan membuka pintunya. Melihat Jino didepannya reaksinya langsung seneng.
“Jino.. tumben lo main kesini”.
“Lagi pingin aja, emang nggak boleh”
“boleh..! siapa yang bilang nggak boleh..?, yuk masuk dulu biar enjoy ngobrolnya”.
“Tunggu tunggu.! gue kesini nggak pingin berlama – lama, maksud gue kesini pingin ngajak lo ke café, bisa nggak..?”.
“mau –mau sekarang berangkatnya”. Ujar Rein kesenengan.
“Nggak seribu tahun lagi”.
Sejam kemudian Jino dan Rein udah nyampe di café balai pemuda, sementara itu Dewa, Lupi, Indah, dan Novi kaget melihat Jino menggandeng cewek setengah bule. “Liat tuh Jino, kayak nggak punya dosa, udah ditungguin sejam lebih, malah enak – enak kan”. Gerutu Indah ke mereka.
“Biarin lah, yang penting ceweknya bule man”. Ujar Dewa cengar cengir.
Jelas aja Indah lansung dongkol. “Dasar play boy kurus” ledek Indah, tapi Dewa nggak merespon. Novi dan Lupi hanya tersenyum kecil melihat mereka.
“Hai sobat – sobatku yang baik, sorry gue telat”. Kata Jino sambil mengandeng Rein.
“Stop – stop lo nggak boleh duduk sebelum ngenalin cewek kece itu” sergah Dewa.
“Mbak jangan mau deh kenalan ama dia nanti tangannya bisa bisa kena antraks” kata Novi.
Rein hanya tersenyum geli.
“Bo’ong mbak, nih cewek suka cemburu, maklum orang cakepkan sering dicemburuhin” tepis Dewa.
“Huuuu” mereka mencibir.
“Udah – udah..! ini kan malam syukuran kita, masa kita saling mengejek sih, malu – maluin tau!”. Lerai Lupi.
“Iya nih kayak anak kecil aja, kenalin Jin biar mereka nggak berantem, hi..hi!” tambah Indah.
“Oke – oke, gue kenalin deh, ini Rein teman SMA gue waktu di Jogja dulu, sekarang dia kuliah di UNAIR”. Rein pun berkenalan dengan mereka. “Ooh anak UNAIR toh” Ujar indah.
“Pokoknya Rein, Lo nggak bakalan rugi punya temen kayak kita kita yang punya segudang ketampanan dan kecantikan”. Celetuk Dewa antusias.
“Masa iya sih” jawab Rein tersenyum.
“Jangan didengerin, tuh anak emang sering error kalo ketemu cewek cakep”. Ledek Indah.
“Gue bilangin ya..! kalo Dewa ngomong, anggap aja lo ngomong sama bunyi suara kentut. Tambah Jino. “Huahaahaa” Kontan mereka langsung ngakak terbengkak bengkak. Seketika itu Dewa langsung diam dan Perasaannya dongkol banget sampe sampe kepalanya mengeluarkan tanduk bak kebo.
“Temen lo lucu juga ya Jin..?” kata Rein.
“Emang lucu Rein, terutama yang gondrong itu, kalo nggak ngelucu satu hari saja bisa – bisa dia jadi Gay” ledek Jino.
“Huahaahaa...”. Seketika itu mereka langsung tertawa tak terkendali.
Dewa tambah keki diledekin terus. “Awas pembalasan Gue” batin Dewa dongkol.
“Ngomong - ngomong kamu keturunan mana Rein, kok kamu keliatan Bulenya”. Tanya Novi.
‘Ibuku keturunan Spanyol, sedangkan Ayah gue orang pribumi, jadi gue mewarisi gen Ibuku” jelas Rein.
“Oh jadi gitu” Novi puas.
“Rein!! asal Lo tau aja, kita tuh ibarat roti, gue ibarat Roti brownis, Lupi ibarat roti selai, Indah ibarat roti hamburger, Novi ibarat roti keju, sedangkan Jino kalo diibaratin kayak roti gosong yang nggak bisa dimakan”. Jelas Dewa langsung ngakak. Mendengar ledekan Dewa, Jino jadi dongkol setengah mati.
“Lo yang yang gosong persis pantatnya Teflon” balas Jino.
“Udah – udah lo dari tadi adu mulut melulu nggak bosen apa? Lama-lama Tak liat kayak Tom and jerry lo, suka nggak akur”. Omel Lupi emosi. Mereka langsung diam.
“Gini aja deh, ketimbang kita bercanda terus, mendingan kita rayakan kelulusan kita dengan bersulang ria, ok bruer!”. Usul Indah.
“Okkeee, Siapa takut.!” Tambah Lupi. Mereka langsung mengangkat gelasnya masing – masing. “One for all, all for love” kata mereka serempak.
“Jadi ini perayaan lulus toh..? bentar lagi Lo-Lo jadi sarjana dong”
“yaps” jawab Dewa. “tau nggak Rein! Jino habis ini mau ke London, dapat beasiswa S2 kuliah disana”. Tambah Lupi. “Jahat lo Jin nggak bilang bilang dapat beasiswa”. Rein mencubitnya.
“Mari kita bersulang lagi demi persahabatan dan demi kesatuan kita” gantian Rein yang ngajak. “TEK” lalu mereka menengguk syrupnya sampai habis.
***Tiga belas***
Cuaca langit keliatan mendung, pohon pohon cemara bergoyang diterpa angin, mahasiswa kampus cemara masih berlalu lalang, sedangkan Jino berada diruang akademik kampus, karena tuh anak lagi berhadapan sama Pak Woko, dosen yang terkenal killer nya amit –amit.
“Gimana saudara Jino, apakah anda siap berangkat ke London” Tanya Pak Woko.
“Siap sih pasti siap Pak, tapi apakah pihak juri tidak salah meloloskan saya, bapak harus bisa menilai saya secara selektif”. Jawab Jino tegas.
“Saya sudah menilai saudara secara selektif, Berarti saudara tidak mempercayai Juri juri kami termasuk bapak, begitu..?” kata Pak Woko mendelik
“Maaf pak! Bukan maksud saya tidak mempercayainya, tapi kan banyak mahasiswa yang lebih pintar dari saya”. Jelas Jino.
“Saya tidak bodoh dalam menilai seseorang dalam hal akademik, saudara tau! nilai anda paling tertinggi dari 50 peserta, termasuk 2 mahasiswa yang lolos, kalau tidak percaya, liat nilai saudara.” Pak Woko menyodorkan hasil ujiannya.
Jino semakin yakin melihat hasil ujiannya.
“Saudara tau…! saya sudah melihat transkrip nilai anda dari semester awal sampai akhir ternyata nilai anda cukup bagus”.
“Makasih Pak, maaf saya telah menyinggung perasaan Bapak” kata Jino.
“Bapak tidak merasa tersinggung dengan perkataan saudara, tapi bapak suka dengan ketegasan saudara.” Puji Pak Woko sambil tersenyum.
Jino juga ikut tersenyum bahagia. “kapan saya berangkat ke London Pak”
“Kira kira satu minggu setelah kamu diwisuda.” Jawab Pak Woko sambil mengeluarkan cerutunya dari laci mejanya, lalu menyulutnya.
“Oh jadi gitu yah” Jino tersenyum “pak boleh minta cerutunya.” Dasar nggak tau malu, tapi Jino punya prinsip? kalo kita malu – malu sama juga bo’ong hidup didunia ini, itulah prinsip orang aneh.
“Silakan, saya kira saudara tidak merokok” pak Woko manyodorkan cerutunya. Lalu Jino mencomot cerutunya.
“Makasih Pak.! Jino kesenengan dapat cerutu.
“Jangan lupa urus administrasimu dan paspor keberangkatanmu.”
“Beres pak, pasti!” Kata Jino langsung ngeloyor pergi.
Pak Woko hanya geleng geleng kepala.
Agak jauh dari ruang Pak Woko, Jino berhenti sejenak sambil menyulut cerutunya. “Wuzzzz” kepulan asap keluar dari mulutnya Jino. Nikmat banget men! Jino merasakan kenikmatan cerutunya, Jino jadi teringat Fela pada waktu perkenalan dulu ditaman. Jino mengamati taman yang ada didepannya dengan hati gundah. Bahagia rasanya mengingat kajadian 2 tahun yang lalu.
“Kampus cemara yang indah kampus cemara yang penuh dengan kenangan, Aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.” Desah jino sambil mengamati halaman gedung kampus yang megah. Jino menghisap cerutunya lagi, lalu Jino melangkah kan kakinya pergi, tak diduga Jino kaget melihat Fela berjalan sendirian kearahnya. Deg.! “Fela” Desis Jino menghentikan langkahnya. Jino pun sengaja menunggu Fela lewat disampingnya.
Fela jadi salah tingkah ketika mau mendekati Jino, tapi Fela hanya diam saja.
“Felll….!” Sapa Jino pelan. Fela tetap tidak menghiraukannya, Jino jadi sakit ati dicuekin Fela. Sebenarnya Jino pingin ngomong kalo dia mau pergi ke London, tapi Fela cuek. Jino kangen, pingin rasanya mendengar suaranya yang merdu itu, tapi melihat kenyataan itu hatinya Jino serasa tergampar oleh kehinaan. Jino hanya bisa geleng-geleng melihat Fela berlalu begitu saja.
“Sorry Jin, aku nggak bermaksud nyakitin kamu!” batin Fela. Sebetulnya Fela juga sayang ama Jino, tapi berhubung dia udah dimiliki Kevin, dia jadi menyerah pada kenyataan.
“Angan - angan tak bertepi.” Gerutu Jino dan pergi dengan perasaan dongkol. Fela menoleh kebelakang, ternyata Jino udah nggak ada, Fela jadi merasa bersalah.
Tepatnya bulan November awal…!
Hari itu juga pesta wisuda barusan selesai, Jino sudah dinobatkan sebagai mahasiswa yang memperoleh IPK tertinggi dan mendapat beasiswa S2 diLondon, Jino seneng banget, terutama Om dan Tantenya merasa terkejut dengan prestasi keponakannya. ”Om ikut senang ternyata kamu dapat beasiswa ke London, tidak sia sia ayah dan ibumu mengkuliahkan kamu.” Ujar Omnya.
“Tapi sayang ayah dan ibumu nggak bisa datang.” kata Tantenya.
“Nggak apa apa Tante, mungkin ayah dan ibu sibuk kali.”
“Ayo kita Foto dulu deh, tukang fotonya udah nunggu tuh” ajak Evi. Lalu mereka berpose bak foto model.
“Semuanya mepet, menghadap kekamera, satu dua tiga.” Kata Tukang foto memberi aba aba. “JEPRET”. Selesai foto Jino ngacir ke ganknya.
“Wa.!” Seru Jino ke Dewa yang lagi bersama Lupi dan Novi.
Mereka menoleh. “Kapan Lo berangkat ke London” Tanya Dewa.
“Mungkin minggu depan.”
“Nggak terasa yah kita udah jadi sarjana” Ujar Lupi.
“Waktu memang cepat.” Tambah Novi. Selang beberapa menit Indah datang menghampiri mereka. “Hai semua” Sapa Indah manja.
“Hai” Jawab mereka serempak.
“Bentar lagi kita akan berpisah.” Lupi menunduk sedih. ”Indah pulang ke kalimantan, Novi meneruskan kuliahnya di UI, Dewa ke Amrik, Jino ke London, sedangkan Gue disini sendirian.”
“Udahlah Lup nggak usah bersedih, siapa juga sih yang menginginkan perpisahan ini, Gue juga sedih Lup, kita dulu bersama sama dalam menghadapi suka dan duka, tapi gimana lagi waktu jua yang memisahkan kita, Kita harus menerimanya dengan lapang dada” jelas Dewa serius.
“Tumben lo serius” sekak Novi. Dewa langsung keki.
Lalu Indah memberikan isyarat ke ganknya kalo Jino ngelamun.
“Lo ngapain kok diam aja..?.” Tanya Dewa penasaran.
“Gue bayangin kalo seumpama Fela memberikan selamat ke gue, gue pasti bahagia.” Ungkap Jino.
“Lo harus berfikir secara realistis dong Jin? Fela tuh ibarat bintang dilangit men, Lo hanya bisa melihat doang, tapi Lo nggak bisa memiliki, ingat itu Jin.” Ujar Dewa.
“Gue tau itu, tapi gue nggak bisa ngelupain dia, gue sangat sayang ama dia, mungkin Fela adalah cinta sejati gue.” Jawab Jino pilu.
“Kalo Lo gini terus, lo akan tersiksa dengan cinta lo sendiri.” Kata Indah.
“Makan tuh cinta sejati.” Pekik Dewa.
“Oke, sekarang gini, Lo harus berani ketemu ama Fela, ngomong secara blak blakan, bilang kalo Lo mau minta maaf.” Saran Lupi.
“Bener juga Lup.” Tambah Dewa setuju.
“Oke deh gue coba.” Kata Jino lega.
“Gue punya usul, ini kan hari perayaan kita wisuda gimana kalo kita lempar toga keatas, okee men…!.” Kata Dewa antusias.
“Okeee.” Mereka langsung melemparkan toga keatas dengan sorak - sorak gembira.
Seminggu sudah berlalu, Jino sengaja menunggu Fela kuliah, Jino nggak peduli dengan harga dirinya, dia harus bisa menemuinya karena besok akan berangkat ke London. Jino duduk ditaman sambil melirik lirik kelasnya Fela, tak lama kemudian Fela keluar bersama Hesti, Jino langsung ngacir menghampiri mereka. “Fel..” Sapanya dari belakang. Fela pun menghentikkan langkah kakinya dan membalikkan badan. “Oh kamu Jin” kata Hesti yang ada disampingnya Fela. “aku pergi duluan ya” pamit Hesti. Mereka sama –sama diam membisu.
“Aku pingin ngomong sesuatu ama kamu.” Ungkap Jino.
“Ngomong aja langsung” kata Fela ketus.
“Fel…aku mau minta maaf, apakah kamu mau memaafkan aku?” urai Jino.
Fela terdiam membisu.
“Kalo kamu nggak mau memaafkan!.” Jino menghela nafas. “aku nggak maksa kok..! Jino diam sejenak. “Sorry Fel..? kalo aku nganggu waktu kamu” ucap Jino sedih dan berlalu pergi meninggalkan Fela.
“Jin tunggu…!” Teriak Fela. Tapi Jino nggak memperdulikannya, karena hatinya masih sakit. Fela semakin menyesali perbuatannya tadi, sedih rasanya, tapi gimana lagi egois yang menguasai dirinya, hingga ia tak bisa berkata –kata, sebenarnya Fela juga pingin ngomong kalo dia juga sayang ama Jino, tak terasa air matanya Fela mentes mengalir ke pipinya yang merona.
Tak terasa Jino udah menggeber laju motornya dengan cepat, hatinya hancur jatuh satu persatu, periih rasanya, sejuta pikirannya melayang ke cewek yang disayanginya. Kau kejam Fel, apakah aku salah bila aku mencintai kamu, Fela – Fela kau membuat diriku lemah, gue harus bisa melawan itu semua! Gue harus bisa tersenyum meninggalkan kota ini, hidup adalah perjuangan men.
Malamnya Jino berkemas - kemas nyiapin barang bawaannya, karena besok dia berangkat ke London, usai berkemas, Jino duduk merenung dijendela kamarnya, ia mengenang perjalanan cintanya selama ini, dia ingat ketika cintanya ama Asti hingga ia berkenalan ama Fela, bahagia rasanya mengingat semua itu, Jino terus merenung, ingatan - ingatan masa lalunya seperti angin yang berhembus. “Fucck” Jino mengeluh mengenang semua itu membuat hatinya pedih, tapi dia berusaha bangkit dan tegar dalam masalahnya. Dia menyulut rokoknya sambil menatap langit biru dimalam hari. Lalu dia membuat surat terakhir buat Fela, dengan jiwa yang terluka.
Akhirnya motornya Jino berpacu dengan angin menuju rumahnya Hesti, Jino ingin mengasihkan surat terakhirnya lewat Hesti. Sesampai dirumahnya Hesti.! “Hes boleh minta tolong nggak.?” Kata Jino dihadapan Hesti.
“Minta tolong apa”
“Tolong kasihkan surat ini ke Fela, gue mohon Hes!” Pinta Jino sambil menyodorkan suratnya. “Apa ini surat Cinta ya..!”
Jino hanya mengangkat alisnya ”Ya gitu deh”
“Kenapa nggak lo kasihkan sendiri aja”. Hesti balik nanya.
”Gue nggak bisa Hes, Fela nggak mau nemuin aku” ujar Jino polos.
“Hes tolong kasihin surat ini minggu depan aja, please Hes, ini menyangkut kehidupan”.
“Duillee, seperti pujangga aja Lo Jin”
Jino tersenyum tipis.
“Nggak usah kuatir Jin, gue akan berikan surat ini ke Fela.”
“Makasih Hes, atas pengertian Lo”
“Gue tau Lo sangat sayang ama Fela, gue tau itu.” Kata Hesti
“Gue juga heran, Lo balik balik disakitin Fela tapi Lo tetep sayang ama dia, Lo emang sabar banget jadi orang.” Sambung Hesti lagi.
Jino hanya Diam.
“Denger denger Lo akan pergi ke London ya.” Tanya Hesti lagi.
“Iya Hes, gue berangkat besok pagi.” Jino diam sejenak. “Dan mulai sekarang gue mencoba untuk melupakan Fela” kata Jino. Setelah ngobrol ama Hesti beberapa menit, Jino pamit pulang.
Sementara itu Fela yang ada dikamarnya pikirannnya lagi kacau gara-gara tadi siang, dia merasa bersalah ama Jino “sebenarnya aku sayang ama kamu, tapi aku nggak bisa, aku udah milik kevin Jin, kamu harus tau itu” Batin Fela menangis menghadap ke cermin sambil menggeraikan rambutnya yang indah. Kemudian terdengar suara ketuk pintu kamarnya Fela, Dia langsung buru-buru mengusap airmatanya, “Fel ini mama sayang bukain dong” kata mamanya dibalik pintu, “Oh mama udah pulang” Fela pun kegirangan dan membukakan pintu kamarnya “Mama” Fela langsung memeluknya bahagia. “Mama kok tega sih ninggalin Fela sendirian Katanya satu bulan kok jadi setahun lebih, mama nggak sayang ya ama Fela” Rengeknya manja.
“Siapa bilang Mama nggak sayang, Mama sayang kok sama Fela, Maafkan mama ya!, soalnya Papa kamu ada tugas Tambahan jadi molor. ” Katanya sambil memeluk anak semata wayangnya.
“Kamu kok jadi kurusan gini, ditinggal mama satu tahun saja jadi kurus, pasti makan nya nggak teratur”. Fela mengeleng. “Ada apa sih sayang, pasti gara-gara cowok Ya?” sambung mamanya mengusap airmatanya Fela.
Fela menggeleng lagi “Papa kemana ma”?.
Tiba-tiba papanya muncul “Ini papa sayang, udah besar kok nanyain papa, nih oleh-oleh dari papa spesial buat kamu” papanya menyodorkan sebuah boneka Teddy bears.
“Makasih Pa..!” Kontan aja Fela tambah happy dan memeluk papanya.
Bersamaan dengan itu Jino berhenti didepan rumahnya Fela, dia mengamati rumahnya fela untuk yang terakhir kalinya. Jino bergumam dalam hatinya “Fel..aku disini, aku mencintaimu Fel, liatlah aku sedang bersedih ini Fel..!” Jino mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dari balik jaketnya dan meletakkan didepan Rumahnya. “Selamat tinggal Fel, meskipun kamu sakiti aku, aku tetep sayang ama kamu, aku akan pergi Fel, selamat tinggal bungaku yang malang” Jino langsung mengeber laju motornya dengan penuh emosi.
Seketika itu Fela yang berada dikamarnya, kaget mendengar bunyi motornya Jino.
“Jiinooo..!” Desahnya langsung menuju cendela kamarnya, Fela melihat keluar ternyata nggak ada orang, lalu sorot matanya melihat bunga yang tergeletak diluar. “bunga itu” Desahnya lagi dan pergi menuju ke luar dengan tergesa-gesa.
Sesampai diluar Fela mengambil bunga mawar putih yang bisu, seakan bunga itu menangis sedih “Bunga ini” Fela semakin deras mengeluarkan airmatanya “Maafin aku Jin...” Fela bersimpuh dan mencium bunga itu dengan hati yang penuh luka.
Sedangkan Jino udah berada dijalan raya sambil teriak-teriak sendiri “Aku mencintai kamu Fel, apa salahku Fel…aaaahhhh..!” hatinya hancur, Jino nggak rela kenapa cintanya selalu berakhir dengan kesedihan, tapi itulah nasib yang udah digariskan oleh yang Kuasa. Jino memang udah terlanjur Cinta mati ama Fela, tau sendirikan meski sering disakiti, Jino tetep memandang Fela lebih dari segala-galanya termasuk merelakan kebahagiaan dirinya sendiri, sakiiit banget! Saat tiba diperempatan jalan Balai pemuda, Jino mengentikan laju motornya. Jino melihat bangunan tua itu Jino teringat..? Ingatan-ingatannya mulai berhembus satu tahun yang lalu, ketika bersama Fela melihat lukisan digedung tua itu, seakan tidak bisa merelakan kenangannya yang indah. Jino mulai meletakkan motor butut kebanggaannya, dan terduduk ditrotoar.
Mulutnya Jino bergetar lirih, dia menyanyikan lagunya Dewa 19 yang judulnya Pupus.
“Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan, kau buat remuk seluruh hatiku, semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku, semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kau pun mau, aku mencintaimu lebih dari yang engkau tau, meski kau takkan pernah tau..” Airmatanya pun menetes perlahan mengikuti lirik lagu itu.
***Empat belas***
Seminggu kemudian.
Di koridor kampus yang sepi, Fela ngilirik tajam kearah Kevin.
“Lo emang bullshiit Vin, katanya lo sayang, cinta, ternyata Lo nggak lebih dari kotoran manusia.” Omel Fela marah. “Nih cincin Lo gue nggak butuh” Fela membuang cicinnya ke muka Kevin.
Kevin langsung mendelik geram dan langsung menampar Fela. “PlaaK”
“Cukup Fel yang Lo bilang” Sungut Kevin.
Fela memegang pipinya kesakitan sambil terisak isak, air matanya bercucuran mengalir deras. “Lo udah nyakitin gue Vin, berkali – kali, lo nyakitin gue, tapi gue berusaha sabar, tapi apa..? apa balasanmu sekarang?” Ratap fela terbata bata.
Kevin hanya diam.
“Gue mancoba setia ama kamu, tapi nyatanya lo nyeleweng ama Susan, ternyata Lo mempermainkan gue Vin.” Ratapnya lagi.
Kevin tertawa mendengar ucapan Fela.
“Gue emang busuk Fel, gue hanya ingin balas dendam ama Jino lewat Lo, sekarang gue puas Fel, puaas” kata Kevin meninggi.
“Asal Lo tau Fel, gue sebenarnya nggak sayang ama lo, gue hanya ingin memisahkan kamu ama Jino” Fela semakin sakit mendengar itu. “Sekarang lo udah tau kan hubunganku ama Susan, itu udah lama Fel, sebelum kita comback aku udah jadian ama Susan.” Jelas Kevin dan langsung tertawa lepas menghina Fela.
Fela semakin marah. “Bangsat lo Vin, dasar buaya...!” Fela menonjok mukanya Kevin “bugh” Kevin jadi kesakitan.
“Perempuan murahan.” Kevin mendorong Fela dengan keras hingga ia menatap tembok. “Aaaahw” Fela merengek kesakitan.
Hesti yang tadi lewat langsung lari melihat kejadian itu.
“Hentikan Vin…!” Sergah Hesti langsung mononjok Kevin. “bugh..bugh”
Pukulan hesti melesat kearah mukanya dua kali, Kevin langsung terhuyung kesakitan. “Syukur Lo, ayo hadapi gue, jangan berani sama Fela doang.” Hesti pasang kuda kuda. Kevin tambah marah. “Berani – beraninya Lo mukul gue” Kevin mengusap hidungnya yang berdarah. “gue habisin Lo sekarang” Ancam Kevin
Kemudian..?
“Tunggu.!.” seru Lupi berdiri disamping mereka.
“Minggir Hes, Lo bukan tandingannya, biar gue aja yang menghajar lelaki banci ini” kata Lupi mengepalkan tangannya.
“Apa lo bilang” Kevin makin geram.
“Banyak omong Lo” Lupi langsung menghajar Kevin bertubi-tubi, sampe-sampe Kevin nggak ada kesempatan mukul, Lupi terus nonjokin mukanya Kevin sampe berdarah. Bugh..bugh..bugh.
“Ampun Lup ampun.” Rengek Kevin kesakitan.
“Nggak ada kata ampun” Lupi lalu menonjok lagi hingga Kevin lari sempoyongan.
“Lo nggak apa apa Fel” Tanya Lupi khawatir..
“Nggak apa apa kok” Jawabnya.
“Lo serius nggak apa apa!”. Tambah Hesti
“Yuk kita pergi dari sini”. Ajak Lupi memegangi Fela bangkit.
Mereka menuju taman yang terlihat sepi, dan mereka duduk disana.
“kenapa aku dulu nggak dengerin perkataan Jino tentang Kevin.” Urai Fela menitikan airmatanya.
Hesti dan lupi hanya bisa mellihat Fela sedih.
“Seumpama kalo dulu aku nerima Jino, mungkin aku nggak sesakit ini. Maafkan aku Jin…!, aku telah membuat kamu membenci aku” Desis Fela.
“Jangan sedih ya Fel..? gue juga ikut sedih kalo lo nangis.” Kata hesti memeluknya.
“Gue udah lama nyakitin hatinya Jino.” Fela mengusap airmatanya. “sekarang Jino dimana ya..?, udah lama dia nggak pernah keliatan.” Lanjutnya melepaskan pelukannya.
“Sorry Fel.? Jino udah pergi jauh dari sini, Lo nggak ada gunanya nyari dia.” Ungkap Lupi.
“Maksud kamu Lup.” Kejar Fela.
“Jino udah pergi ke London, yang jelas katanya Jino dia udah lama tersiksa dikampus ini, dia pingin banget meninggalkan kampus ini dengan tersenyum bahagia.” Jelas Lupi.
“Apa..!” Fela semakin deras menitikkan airmatanya.
“Dulu pas Jino wisuda dia memimpikan seorang Fela mengucapkan kata-kata selamat buat dia, tapi itu hanya sebuah berandai andai saja buat Jino.” Lanjutnya lagi. “Sorry Fel, bukannya gue membuat Lo sedih tapi itulah kenyataannya.”
“Iya Fel..! Jino pernah bilang ama gue dia mencintai Lo lebih dari dirinya sendiri.” Tambah Hesti.
“Cukup” Kata Fela terisak isak. Gue emang salah ama dia, gue terlalu bodoh dalam menilai Jino, bodoh, bodoh..!” Fela menangis pilu. Kenapa aku setia banget ama Kevin dan ternyata kesetiaanku dikhianati sama Kevin sialan itu.” Lanjutnya.
Mereka sedih melihat tangisan Fela yang menderu.
“Fel..? seminggu yang lalu Jino memberikan surat ini ke gue, dia juga sedih, dia sangat mencintai Lo.” Ujar hesti jujur sambil menyodorkan suratnya.
“Dari Jino.” Tanya Fela penasaran
“Baca aja, mungkin Lo akan tau jawabannya di surat ini.”
Fela pun membacanya dengan seksama.
Dear fela yang aku hormatin.!
Fel tidak ada jalan lain selain aku menulis surat ini buatmu aku ingin kau tau bahwa aku sangat merindukanmu,mencintai kamu, mungkin kata kata ini sudah basi kuucapkan, aku sadar kok Fel, bahwa kamu adalah sebuah angan angan tak bertepi, sebagai manusia biasa aku terluka terhadap sikapmu dan tindakanmu selama ini
Hari demi hari aku selalu memikirkanmu malam demi malam aku selalu memandangi bintang dilangit mengingat wajahmu, tapi nyatanya membuat aku terluka parah, terluka dalam cinta. Aku ingat sewaktu kamu menampar aku dilapangan basket, aku ikhlas kok meskipun aku ditertawai oleh langit.
Hidup ini memang sebuah peristiwa, apapun yang kita lakukan adalah sebuah peristiwa, begitu juga diriku Fel ketika aku mencium kamu, aku merasakan kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan yang hakiki, meskipun aku kau ejek, kau tolak, kau tampar, aku tidak akan membencimu sedikit pun, karena cinta telah menguasai aku, mungkin bagimu aku orang yang tak tau diri. Tapi aku nggak apa-apa kau bilang gitu terhadap diriku, aku rela menerimanya.
Sejak aku mengenalmu ditaman serasa hidup ini berubah, seakan-akan kamu adalah mimpiku, mimpi dalam kebahagiaan, tapi mimpi itu berubah menjadi kesedihan tak berujung. Kini aku menyadari bahwa kamu adalah sebuah makna yang terpendam, makna yang nggak bisa aku gali dengan segenap jiwaku.
Asal kamu tau Fel…? aku menyukaimu dengan tulus, tetapi kamu justru melemparkan aku dalam api kesengsaraan, dan aku tidak akan menyesalinya atas apa yang kau perbuat padaku. Namun yang sangat menyakitkanku sekarang adalah bagaimana kehidupanku setelah peristiwa itu. Aku telah menghamburkan semua khayalanku, karena surgaku ada pada dirimu, bagiku sangat sulit untuk melupakan masa lalu itu.
Sorry Fel..! mungkin aku terlalu cerewet dengan surat ini tapi tenanglah aku nggak akan menggangu hubunganmu dengan Kevin aku janji Fel!, Semoga kamu bahagia dengan dia, thanks kamu udah mau meluangkan waktu untuk membaca surat ini, dan aku pingin ngucapin selamat tinggal untuk selamanya. Semoga kamu tertawa dengan kepergianku ke London.
Jino Atmanegara
Setelah membaca suratnya Jino, Fela semakin tercabik cabik hatinya, airmatanya mulai mengalir membasahi surat itu. Sedih rasanya..!.
Malamnya Fela terdiam sendiri dikamar, dia memandangi kado dari Jino yaitu sebuah miniatur Vespa yang berdiri kokoh dalam kebisuan, Fela semakin sedih, hancur, karena selama ini telah membohongi hatinya sendiri.
“Jin aku sayang banget ama kamu” Mulutnya bergetar lirih dan memeluk suratnya Jino. Lalu fela mengambil Hpnya yang tergeletak dikasurnya, dan memencet nomornya Hesti.
“Hes…! Lo bisa kesini nggak, gue butuh ama lo?” ujarnya sedih.
“Gue kesana sekarang, tunggu gue lima belas menit, jangan sedih ya..!” kata hesti diseberang sana. Setelah itu Fela menghampiri bunga mawar Putih yang layu di vas bunga. Kemudian langkah kakinya bergerak ke cendela kamarnya, dan melihat hamparan langit malam yang indah.
Selang beberapa menit, Hesti muncul dari pintu kamarnya. “Fel…!” melihat Fela ngelamun sendiri Hesti jadi sedih.
“Hes...!” Balas Fela dan memeluk sahabat dekatnya. “Gue sedih Hes, rasanya aku pingin mati, nggak ada gunanya lagi hidup didunia ini” Urai fela terseduh – seduh.
“Ssst..Lo ngomong apa sih Fel” Hibur Hesti. “lo nggak pantes ngomong gitu Fel, hanya orang yang putus asa aja yang pantes bilang gitu, selama ini lo bukan cewek yang mudah putus asa,” jelas Hesti. Fela hanya diam. “Fel..! gue yakin Jino masih sayang ama lo” jelasnya lagi.
“Tapi gue udah terlambat Hes, dia udah pergi jauh dan ninggalin gue..” Urai Fela sedih. “ini semua gara – gara Kevin si buaya darat” sambungnya lagi.
“emang kenapa sih Kevin?” Tanya Hesti penasaran.
“gue kemarin pas jalan – jalan ama nyokap dan bokap gue dipantai kenjeran, gue mergokin kevin sama Susan, apalagi dia mencium Susan dan memeluknya dengan mesra banget, hati gue langsung sakit banget, ternyata kesetiaanku selama ini dikhianati, dasar buaya!!” Ungkap Fela emosi.
“jadi Kevin selingkuh ama susan, anak sekelas kita itukan”
Fela menganguk
“lo harus sabar Fel, ini cobaan buat lo” hiburnya lagi.
“Dasar playboy cap tikus” umpat Hesti.
“Sekarang gue nyerah dengan kenyataan ini Hes?” kata Fela pelan.
“lo nggak boleh nyerah Fel, lo harus ke London Fel, lo harus berkorban demi Jino, demi cinta lo!” ujar Hesti menyakinkan Fela. “lo emang sahabat gue yang baik banget, makasih Hes” Fela memeluk Hesti bahagia.

LONDON DUA MINGGU KEMUDIAN.
Istana buchenhem begitu indah, suara – suara nyanyian burung gereja terasa melengkapi istana tua itu. Burung - burung merpati mulai berhamburan terbang mengitari istana raja Inggris yang menawan. sore itu seperti biasa Jino dan Dewa ngeceng didepan menara Bigband , ya biasalah TP - TP maksudnya sih tebar pesona.
“Jin cewek Inggris cakep cakep ya, tapi nggak kalah ama cewek Amrik” kata Dewa antusias sambil jalan mensejajari Jino.
“Ya mesti dong, yang penting nikmatin aja deh, besok kan Lo harus balik ke Amrik, Lo udah cukup nemenin gue disini.” Ujar Jino.
“Jadi Lo ngusir nih” Hardik Dewa melotot.
“bukanya ngusir tapi gue udah bosen liat tampang Lo, ha.ha.ha..!” Jino jadi cekikikan
Dewa melotot keki.
“Gitu aja marah Wa! gue kan bercanda”
Dewa langsung tersenyum.
Lalu mereka duduk dibawah Pohon Cedar sambil mengamati menara Bigband yang indah. “Wa..? Gue merasa terhibur disini deh sayang lo besok balik ke Amrik.” Kata Jino.
“Tenang ajalah Jin, gue dua minggu sekali pasti kesini, jangan kuatir.”
“Gimana kuliah Lo Wa..?” Tanya Jino.
“Indah banget Jin kuliah disana terutama cewek bulenya yang kece kece, pokoknya nggak kalah ama cewek diLondon ini men.” Jelas Dewa.
“Lo dari dulu cewek melulu, nggak ada pensiun pensiunnya.”
Dewa hanya bisa cekikikan.
“Hust.! cekikikan melulu” pekik Jino
“Jin Lo nggak kangen ama Fela?” Tanya Dewa seketika.
“Wa’ gue udah bilang..!, jangan sebut sebut dia lagi, gue udah cukup tersiksa, lo mau temen lo yang kece ini menjadi gila karena Fela.” Semprot Jino emosi.
“Kita hanya berandai saja, seumpama Fela kesini lalu nembak kamu gimana coba..?” jelas Dewa.
“Realistis dong Wa, nggak mungkin banget lah Fela jauh-jauh ke London untuk nembak gue.” Kata jino tersenyum geli.
“Udah lah nggak usah membahas itu lagi, gue udah bosen” Sambung Jino lagi
Mereka diam sejenak.
“Sebelum gue pergi ke Amrik, gue pingin kasih kejutan ke Lo, gue jamin Lo pasti seneng.” Kata Dewa penuh teka teki.
“Lo kasih kejutan apa, bikin gue penasaran aja.?”
“Tarik nafas dalam-dalam, lalu liat ke belakang Lo..?”
Jino pun menuruti perintah Dewa dan menoleh ke belakang. Jino tersentak kaget melihat Fela berdiri didepan matanya bersama Lupi dan Hesti. Jino tidak bisa berkata kata melihat pujaannya, hatinya sedikit bahagia, sampe-sampe mulutnya terkunci.
“F..Fe..Fela” katanya terbata – bata.
Fela langsung lari memeluk Jino. “Maaffin aku Jin, aku…aku telah membuatmu terluka, mungkin aku nggak patut untuk kamu maafin.” Tetesan airmatanya mangalir pelan.
Seketika itu Jino melepaskan pelukan Fela.
“Jelas Fel..! kamu nggak akan aku maafin, karena udah cukup kamu menyakiti aku” Jino terdiam beberapa saat lalu melanjutkan perkataanya. “Dua tahun bukan waktu yang sedikit Fel untuk melupakan keperihan hati ini, semua telah kurelakan, kecewaku, perasaanku, tapi justru kamu menghina cintaku, aku udah terlanjur sakit Fel, sebaiknya kamu pergi aja..!”
Fela jadi sedih mendengar kata kata Jino.
“Aku emang salah Jin, dan nggak patut kamu maafin” Fela mengusap air matanya “aku emang kejam, jahat, pembohong, dan aku pantes untuk pergi dari sini, tapi…! perlu kamu ingat satu hal, aku sadar bahwa dalam hati kecilku, aku sangat mencintai kamu”. Kata Fela berkaca-kaca.
Jino hanya diam membisu
“Aku rela Jin kamu caci, karena aku emang pantes untuk semua itu, dan sekarang aku pergi dari sini biar kamu puas” Fela menangis dan langsung pergi meninggalkan Jino.
Melihat fela pergi, Jino jadi menyesal dan langsung lari mengejar cintanya.
“Fel…! Tunggu fel” Teriaknya dengan keras.
Fela tetap lari dan cuek, tapi apalah daya fela yang bukan atlit lari, Jino dapat mudah menangkapnya. “Lepasin Jin, lepasin..! aku mau pergi, nggak ada gunanya aku disini, aku kejam jin, kejam…!” Ucap Fela menangis.
“Sssst…!” Telunjuknya langsung ditempelkan di bibirnya Fela. “kamu nggak boleh ngomong gitu, aku udah memaafkanmu Fel, telalu bodoh bila aku membiarkan kamu pergi, aku nggak mau kehilangan kedua kalinya orang yang aku sayangi” Jino mengusap airmatanya Fela.
“Bener Jin” Fela semakin erat memeluknya.
“Aku udah bertahan dengan kesedihanku selama dua tahun, kadang aku sering berangan-angan kapan kamu mencintai aku, tapi sekarang angan itu menjadi kenyataan, please Fel..? jangan tinggalin aku lagi, aku sangat mencintai kamu.” Urai Jino menitikkan airmata bahagia.
“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu Jin, nggak akan pernah, aku juga sayang ama kamu” Jawab Fela. Mereka berpeluk bahagia bak sepasang dua sejoli.
Lupi, Dewa, dan Hesti hanya bisa menangis bahagia melihat mereka bersatu.
“Cinta emang aneh banget, semua bisa dikalahkan oleh cinta, termasuk kebencian” Celetuk Hesti.
“Gue jadi inget pesan ayah gue, cinta itu ibarat garam, meskipun semua orang bilang asin, tapi kalo orang yang merasakan cinta, mereka bilang manis, anehkan men…!” Tambah Lupi
“yuk kita jalan-jalan masa kita liatin sepasang kekasih yang lagi bahagia, ganggu tau” Usul Dewa.
“Oke setuju, gue juga mau liat-liat suasana London yang indah” kata Lupi
“Jin..? gue jalan jalan sebentar ama anak anak, nikmatilah kebahagiaanmu.” Seru Dewa. Lalu mereka meninggalkan Jino dan Fela yang lagi bahagia. “Thank yau” Jino hanya mengacungkan Jempolnya.
“Jin bener kata kamu, Kevin bukan yang terbaik bagiku, kamulah yang terbaik bagiku, hanya kamu seorang.” Fela langsung mengecup bibirnya Jino yang Lembut bak sepasang Romeo dan Juliet mengaduh kasih. Cinta mereka disaksikan dentingan menara Bigband yang menjadi penentu cinta mereka.
“Jin aku juga mau di pindahkan ama papaku kuliah di tempatmu”
“Bener Fel, horee” Jino langsung memeluk bahagia.

*** TAMAT ***

Tidak ada komentar: